SEJARAH KELOMPOK PELAYANAN KASIH DARI IBU YANG BAHAGIA

IV. TEMPAT DOA HATI IBU YANG BAHAGIA

Atas pertanyaan umat (22 Desember 1995) apakah rumah Ibu Agnes boleh dijadikan tempat ziarah, Ibu Maria dengan tegas tidak menyetujuinya. Rumah Ibu Agnes hanya dijadikan tempat berkumpul dan berdoa bersama. Umat diminta untuk merawat tempat doa yang sudah diberkati. Apabila umat datang untuk berdoa maka akan menerima keselamatan, tetapi tempat itu (rumah Ibu Agnes) bukan tempat ziarah.

Tanggal 9 September 1995 kelompok datang berdoa di Baturetno – Wonogiri dan tanggal 27 April 1996 kembali ke sana untuk kunjungan sosial, atas permintaan Ibu Maria. Pada bulan Maret, sebulan sebelumnya, dua orang bapak di utus untuk membuat persiapan. Dalam laporannya, disebutkan pula tentang adanya tempat ziarah, Gua Maria di Giriwoyo, saat itu ada di bawah Paroki St.Yusuf Baturetno, stasi St. Ignatius – Danan. Tempat ziarah di Giriwoyo ( nama yang berarti Bukit Wahyu ) telah ada sejak tahun 1959 dengan nama Sendang Ratu Kenya ( Ratu Perawan ) gelar Ibu Maria yang dipilih untuk nama tempat itu oleh umat setempat.

Latar belakangnya adalah berkat Novena seorang katekis dan sekelompok calon katekumen di tempat itu saat itu berhasil diusir para roh halus/kuasa kegelapan. Novena yang didoakan dengan perantaraan Ibu Maria berhasil dengan baik. Nama lama tempat itu adalah Sendang Growong ( Sendang dengan gua ) yang memang sebelumnya berupa tempat pertemuan beberapa aliran air dalam tanah, tetapi tertutup oleh longsor besar, akhirnya berkembang menjadi tempat yang dikramatkan. Gangguan roh jahat ditempat itulah yang mendorong Katekis yang bertugas di sana untuk mengajak umat mengadakan Novena. Karena letaknya terpencil, tempat ini hanya dikenal oleh umat lokal saja. Jaraknya dari gereja paroki saat itu (St.Yusuf, Baturetno) sekitar 9 km, terletak antara Giriwoyo dan Giritontro di desa Ngampohan.

Gereja Stasi St.Ignatius terletak kurang lebih 500 m dari Sendang Ratu Kenya, arah ke Giritontro, di desa Danan. (Sejak 24 Agustus 1998 resmi menjadi paroki).
Karena letaknya yang sukar dicapai tempat ziarah inipun tidak terawat dengan baik. Patung Maria yang ada di gua telah rusak pada bagian hidungnya.

Pada saat itu Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia diperkenalkan di Stasi Danan dan sekitarnya. Dan untuk mempersiapkan Misa Kudus dan doa bersama Kelompok, Gua Maria dan lingkungannya dibersihkan secara gotong royong dengan umat setempat. Dan pada saat itu lebih dari seribu orang hadir untuk perayaan Ekaristi dan doa pasrah bersama tanggal 27 April 1996.
Dalam doa bersama inilah, Ibu Maria berpesan untuk memperindah tempat ziarah ini karena Ibu Maria memilih tempat itu untuk dijadikan tanda kehadirannya di Indonesia.

Ternyata, untuk memugar dan memperindah gua, dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Kesulitan mengumpulkan dana menyebabkan pembangunannya agak tersendat. Pada Novena putaran pertama tahun 1997 pada hari ke 2, Ibu Maria berpesan agar tempat doa itu harus segera diselesaikan. Pesan ini diulang berkali-kali dalam putaran Novena pertama dan kedua tahun 1997. Bahkan lebih dipertegas lagi : harus selesai sebelum tahun ini berganti. Ibu Maria sudah maklum tentang apa yang akan terjadi di tanah air kita. Mulai Juli 1997, ekonomi Indonesia mulai merosot dan semakin terpuruk.

Tanggal 8 Juni 1997 dalam Novena putaran ke 3, Ibu Maria memberikan pesan khusus untuk disampaikan pada para imamnya yang sedang menyelesaikan tempat doa itu. Kedua imam yang dimaksud adalah yang mengkoordinir pembangunan tempat doa : Romo Alex Dirjasusanta SJ (saat itu Pastor paroki St.Yusuf Baturetno) dan Romo HP Bratasudarma SJ. (Saat itu Pastor pembantu di Paroki administratif St.Ignatius – Danan) :

“Lakukanlah ! Aku minta pada kamu semuanya, jadikanlah itu tempat doa di negaramu ini.
Aku datang untuk memberikan tempat untuk anak-anakku di negaramu ini. Aku telah memberikan tempat di negara lain dimana aku banyak datang. Kini juga aku datang di negaramu ini, dan disitulah tempat yang aku inginkan akan menjadi tempat doa di negaramu ini”.

Anak-anakku yang aku kasihi, janganlah engkau bingung memberikan nama bagi tempat doa yang
akan kamu perindah itu. Berikanlah nama yang indah, tapi ( pertimbangkanlah) aku sebagai ibumu;
Ibu terhadap anak-anakku yang datang kepadaku meminta doa restuku; itu yang aku mintakan”.

“Jadi Bunda, apakah Bunda maksudkan bahwa tempat doa yang dahulu bernama Ratu Kenya akan berubah nama?”, tanya seorang Bapak.

“Anakku yang aku kasihi, jadikanlah itu tempat doa: ”Hati Ibu Yang Bahagia”
Lakukanlah itu anakku !”
“ Itulah, sampaikanlah kepada imam-mu, aku telah memberikan nama itu sebagai tanda kasihku
kepada negaramu ini. Hai anakku, lakukanlah apa yang aku mintakan kepadamu !
Lakukanlah, jangan khawatir ! Apa yang aku mintakan itu Allahmu berkenan semuanya,memberkati tempat itu menjadi tempat doa. Disanalah akan banyak anak-anakku mendapatkan kasih Allah yang menjadi keinginan mereka ……… mereka mendapatkannya”.

Pemugaran dan pembangunan tahap pertama tempat doa yaitu memperindah gua telah selesai pada bulan September 1997. Tanggal 30 September 1997 tempat itu diberkati dalam Perayaan Ekaristi yang meriah. Pemberkatan didahului dengan Triduum di paroki St.Ignatius – Danan, dan prosesi patung Maria yang baru dari gereja Paroki ke gua. Patung Maria yang lama disemayamkan di gereja St.Ignatius – Danan.

Pada Bulan Februari 1998 Ibu Maria menyampaikan pesan untuk melengkapi tempat doa itu dengan sarana tambahan agar anak-anaknya yang berziarah ke sana dapat datang kepada Allah yang Mahakuasa. Ibu Maria menginginkan agar dibangun sebuah Kapel di tempat itu agar anak-anaknya tidak hanya datang pada Maria, tetapi justru kepada Allah. ( Per Mariam ad Jesum )

Untuk kelengkapan sebuah tempat ziarah dibutuhkan sarana air yang cukup sulit diperoleh di tempat itu. Dalam doa dengan perantaraan Ibu Maria ( Februari 1998 ) umat meminta agar dibantu untuk mendapatkan sumber air dan Ibu Maria menjawab agar umat berusaha dengan daya dan kemampuan serta cara yang dimiliki manusia tetapi Ibu Maria meyakinkan bahwa akan didapatkan sumber air dengan air yang melimpah dan membawa berkat. Air diperoleh dengan menggali sumur artesis sedalam 92 m kurang lebih 100 m dari gua. (sejak Oktober 2003 sumur diperdalam)

“Aku mengatakan kepadamu, air itu Kuberikan kepada kamu sekalian. Air ini yang Kuberikan adalah air penuh berkat dan diberkati Allah; yang menerima, yang mengambil, yang memakainya dengan hati dan doa, dengan kepasrahan, dia mendapatkannya. Air itu untuk kamu. Air itu akan mengalir untuk kamu. Jagalah dengan baik“. (6 Oktober 2003)

Peletakan batu pertama pembangunan Kapel dan pemberkatan sumber air telah dilakukan pada tanggal 30 September 1998. Menjadi kerinduan anggota kelompok untuk segera menyelesaikan tempat doa ini untuk memenuhi permintaan Ibu Maria :

“Aku melihat engkau hampir menyelesaikan tempat doa yang aku mintakan itu.
Aku berdoa agar engkau dapat menyelesaikannya dengan baik, untuk tempat anak-anakku berdoa. Dimana mereka berdoa mereka bersatu dengan Allah.
Itulah tempat pertemuan anak-anakku dengan Tuhan dan dengan aku, ibumu.”………………….
Apabila tempat doa itu sudah selesai, serahkanlah pada imam-mu yang tertinggi di tempat itu ( Uskup Agung Semarang) sebagai hadiah bagi negaramu “.(Pesan Ibu Maria pada penutupan Novena 1998, 31 Agustus 1998 di Cimahi)

“Tempat doa ini adalah tanda kasihku yang kuberikan di negaramu ini. Di sinilah anak-anakKu akan kusatukan, akan kukumpulkan, akan Kubawa, akan kumintakan kepada Allah pengampunan. Melalui tempat inilah, akan banyak pertobatan, akan mengalir Kerahiman Allah kepada anak-anakNya, karena pintu masih terbuka bagi mereka yang mau diselamatkan. Tempat ini akan kujadikan tempat yang bahagia untuk anak-anakku. (Pesan 7 Januari 1999)

Pada bulan Mei 1999 seluruh kelengkapan sarana ziarah di Tempat Doa Hati Ibu yang Bahagia telah selesai. Kapel diberkati dengan nama Kapel Rasul Yohanes, agar dapat meneladani kehidupan Rasul Yohanes, yang sekaligus adalah pembimbing rohani surgawi untuk Kelompok Pelayanan Kasih Dari Ibu Yang Bahagia.

Pemberkatan Kapel dilakukan tanggal 15 Mei 1999 oleh Mgr. V. Kartosiswoyo, Pr dan seluruh kompleks perziarahan diberkati dan diresmikan oleh Vikjen KAJ Mgr. Johannes Pujasumarta Pr. Panitia pembangunan Tempat Doa Hati Ibu yang Bahagia secara resmi menyerahkan tempat ziarah ini pada Keuskupan Agung Semarang sesuai permintaan Ibu Maria sebagai tanda kasih dan tanda kehadiran Ibu Maria di negara kita.