I. MENGENAL AGNES SAWARNO LEBIH
JAUH
TUHAN MEMILIH HAMBANYA UNTUK BEKERJA BERSAMANYA
Terpujilah Tuhan, Allah yang setia. Allah yang tidak pernah memaksakan
kehendakNya pada manusia, Allah yang tak pernah berhenti menawarkan
kasihNya bagi manusia. Allah yang kuasa dalam penyelenggaraanNya
atas keselamatan manusia. Allah yang mencipta adalah Allah yang berkarya,
Allah yang mengasihi, Allah yang memberi rahmat, Allah yang menyelamatkan,
Allah yang memilih umat pilihanNya.
“Bukan engkau yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih
engkau “ ( Yoh 15 : 16 )
Dalam rencana KeselamatanNya, Tuhan memilih seorang wanita sederhana,
yang berusaha membangun kesetiaan padaNya dalam doa dan amal. Oleh
kasih Tuhan ia dimampukan untuk mendengar bisikan Roh Allah yang memilih
dia untuk menjadi alat di tangan PenciptaNya. Wanita itu bernama AGNES
SAWARNO.
1. MASA KECIL DAN REMAJA
Lahir di perkebunan Karet Kisaran, Sumatera Utara tanggal 23 Desember
1946, diberi nama : Nuraini Supriyatini. Sejak bayi terpisahkan dari
kedua orangtuanya karena diangkat anak oleh keluarga dekat dan dibawa
pindah ke Pematang Siantar, jauh dari lingkungan keluarga besar.
Sejak masa kecil kecintaannya besar pada Allah yang terbukti dalam
ketekunannya berdoa dalam iman yang dihayatinya saat itu. Masa remajanya
diisinya dengan kegiatan mengajar anak-anak berdoa dan mengenal Allah.
Di masa ini mulai tumbuh kecintaannya yang besar akan Siti Mariam,
wanita yang terpuji kesuciannya. Keinginannya untuk meneladani Siti
Mariam sungguh kuat, disamping kerinduannya untuk dapat lebih mengenal
dan mencintai Allah.
Setamat SLTP ia melanjutkan bersekolah di Binjai, dan menamatkan SMEA
disana. Ia tidak bekerja di kantor tetapi di lingkungan rumah, sebagai
pengajar bagi anak-anak dan remaja, khususnya mengajar berdoa.
2. MENIKAH DAN HIDUP PERKAWINAN, PERTAMA KALI SUARA TERDENGAR
Meningkat dewasa, semakin mengenal Allah dan merindukan Allah, ia
berkenalan dengan seorang perwira TNI AD berpangkat Kapten, bernama
Sawarno, dan membina hubungan serius. (Saat itu nama baptisnya, Tarcisius
tidak dicantumkannya).
Ketika setelah tiga tahun berkenalan dan ia dilamar, barulah ia mengetahui
bahwa calon suaminya tidak seiman. Ia minta waktu sebulan untuk mempertimbangkan
lamaran itu yang akan dibawanya dalam doa. Ia tidak ingin mengambil
keputusan atas suara hatinya saja, yang tak disangkalnya mencintai
pemuda ini, tetapi ia kembali pada Allah yang selalu dipanggilnya dalam
doanya. Dalam doa ia bertanya :
“Allahku,
inikah orang yang Kau anugerahkan bagiku sebagai pendamping
hidupku?”
Tanpa disangka, setelah sebulan, ia mendengar suara menjawabnya :
“Kasihilah dan terimalah dia apa adanya, Aku yang menganugerahkan
dia bagimu”.
Bersyukur bahwa jawaban yang diterimanya sesuai dengan suara hatinya,
ia tidak pernah mempertanyakan siapakah pemilik suara yang menjawab
doanya itu.
Sesungguhnya saat mendengar suara itu ia sangat terpana, suara itu
menguasai segenap perasaannya dengan damai yang sangat dalam. Ia tidak
berdaya, tidak dapat memprotes, hanya pasrah saja sepenuhnya dalam
ketenangan dan kedamaian hati yang penuh syukur.
Mereka menerima Sakramen Pernikahan dengan dispensasi di Gereja Katedral
Medan oleh Pastor Pius Datubara OFM Cap. (sekarang Mgr P. Datubara,
OFM Cap, Uskup Agung Medan) pada tanggal 31 Maret 1971.
Sebagai isteri ABRI, ia tak lepas harus ikut berpindah-pindah sesuai
tempat tugas suaminya, pertama-tama ke Sidikalang, di Sumatera Utara.
Masa menjelang kelahiran putera pertamanya dilaluinya tanpa kehadiran
suaminya yang sedang tugas belajar di Bandung. Masa-masa yang sangat
sulit karena ternyata letak bayinya sungsang, dan harus di operasi.
Satu-satunya kemungkinan adalah dibawa ke Rumah Sakit di Medan yang
jauhnya 6 jam perjalanan. Sementara kondisinya tidak memungkinkan untuk
itu.
Dalam kesesakannya ia berpaling pada Allah yang ia yakini tidak pernah
meninggalkannya, dan kepada Allah ia minta pertolongan menurut keyakinan
imannya ketika itu. Saat itu juga kembali ia mendengar s u a r a menjawab
:
“Sekarang
juga Aku menjawab doamu, anakKu”.
Suara
yang sama yang dikenalnya saat meminta pertimbangan untuk menikah.
Suara yang sama yang ‘menguasai’ segenap budinya. Dan sekali
ini suara itu menyapanya : AnakkKu…, betapa dekat rasanya.
Persalinannya berlangsung dengan selamat, tanpa operasi. Segera setelah
doanya dijawab, ia mulai merasakan desakan untuk bersalin. Puteranya
lahir dengan persalinan normal, walaupun tetap dengan posisi sungsang,
bahkan dengan usus yang melilit pada lehernya.
Sebulan usia putera pertamanya, suaminya belum juga kembali dari tugas
belajar. Ia masih tetap setia dalam kegiatan doa dan sembah sujudnya
pada Allah. Pada saat doa tengah malam Suara itu kembali menyapanya
dan kali ini dengan sebuah permintaan :
“Serahkan anakmu kepadaKu”.
Merasa tidak mengerti, keesokan harinya ia menceritakan peristiwa
itu pada tetangganya seorang perwira ABRI pula yang kebetulan beragama
Katolik. Tetangganya menjawab bahwa sebagai seorang Katolik ia hanya
dapat mengartikannya sebagai permintaan agar puteranya itu dibaptis
secara Katolik. Ia tak dapat menolak permintaan itu. Tetapi karena
ia belum seiman dan suaminyapun tidak ada di tempat, ia minta perwira
ABRI itu memanggil imam agar anaknya dibaptis di rumah. Thomas Aquinas,
putera pertamanya dibaptis di rumah. Peristiwa pembaptisan anaknya
perlahan makin membuka hatinya. Ia semakin tekun dalam doa-doanya.
Suara yang akrab itu kembali menyapanya dan mengajaknya berdialog :
+ ”AnakKu,
kamu mau mencari keselamatan dalam NamaKu
?”
- “Dengan cara apa ?”
+ “Ambillah Kitab Suci dan bawalah kemari
!”
- “Kitab Suci yang mana?” ( di rumahnya
saat itu ada dua Kitab Suci )
+ “Ambillah Kitab Suci suamimu “.
Pada saat dia membaca Kitab Suci itu terbukalah mata hatinya, pikirannya
dan dia membiarkan dirinya dibimbing dalam membaca
Kitab Suci suaminya. Lalu dia mengadakan studi perbandingan dengan
Kitab sucinya di masa
lalu sehingga dia akhirnya menemukan Kebenaran
dan ia mulai mengenal Siapakah Dia yang sering menyapanya : Dia-lah
Yesus sendiri. Tetapi
saat itu ia belum dapat menyapa Yesus sebagai
Tuhan. Ia menyapa Yesus sebagai nabi sesuai imannya saat itu. Pembimbingan
dan pendalaman Kitab
Suci ini terus berlanjut. Kelima anak-anaknya
akhirnya
dibaptis satu persatu. Dan sejak bulan Juni 1976, keluarga ini
pindah ke Cimahi.
3. DIBAPTIS, PERCAYA DAN PERMULAAN PENDERITAAN
Dalam pendalaman Kitab Suci, iapun tiba pada perikop pengakuan murid-murid
bahwa Yesus adalah Mesias. Pertanyaan yang samapun di ajukan padanya
:
“Menurutmu,
siapakah Aku ini?”
Pertanyaan
ini sungguh menggugah pemikirannya dan menuntunnya untuk mengambil
keputusan antara : “ Mungkin, bila saya menyerahkan
diri untuk dibaptis saya dapat menemukan jalan untuk menjawab pertanyaan
itu”. Walau sempat tertunda, akhirnya ia dibaptis dengan nama
permandian Agnes, pada tanggal 24 Desember 1978 di Gereja St. Ignatius – Cimahi,
oleh Romo Delopius OSC. Iapun aktif dalam aneka kegiatan paroki dari
tugas-tugas liturgi sampai tugas-tugas sosial. Tetapi kendala masih
menguji iman yang baru diyakininya. Merubah kebiasaan lamanya dalam
menyapa Allah menjadi tata cara doa sebagai orang Katolik, menyebabkan
ia tak dapat berdoa dengan sepenuh hati, seperti dahulu ia berdoa.
Ia belum juga dapat menyapa Yesus dengan sebutan “Tuhan Allahku”.
Sejak ia dibaptis, Yesus tidak pernah datang menyapanya.
Dalam
situasi ini ia sungguh mengalami kekeringan doa dan iman. Timbul
dorongan dalam hatinya, suatu keinginan untuk berjuang
menemukan Yesus.
Hatinya mengatakan bahwa bila Yesus sungguh Allah yang ia rindukan
dan ia cari selama ini, pastilah ia dapat bertemu denganNya. Tetapi
bila Yesus ‘hanya’ seorang nabi, seorang manusia biasa,
pemimpin agama, maka ia tidak akan dapat bertemu dengan Dia. Cukup
lama ia berada dalam ‘kekeringan’ doa sampai s u a r a
itu datang menyapanya, hampir setengah tahun sesudah ia dibaptis :
“AnakKu,
doamu selalu Aku dengar. Saat ini juga keluh
kesahmu Aku dengar.
Dahulu engkau datang padaKu sendiri. Maka sekarang ini datanglah engkau
sendiri
padaKu dan Aku akan menyelesaikan masalahmu”.
Kepada Yesus ia menyampaikan kesulitan dan kekeringannya dalam berdoa
dan minta agar dapat bertemu Tuhan. Ia menyerahkan diri sepenuhnya
pada Yesus :
“Aku minta daripadaMu,. kalau Engkau sungguh-sungguh Tuhan,
tunjukkanlah kepadaku siapa Engkau sebenarnya. Kalau Engkau tidak menunjukkan
DiriMu padaku, maka aku akan kembali pada imanku sebelumnya”.
Saat doanya
belum selesai, ia ‘dibawa’ Tuhan dalam “perjalanan
rohani” : mengikuti perjalanan Yesus sebagai Juruselamat . Ia
mendapat penglihatan bagaimana Yesus berkarya saat Ia ada di tengah-tengah
manusia dalam tiga tahun pelayanan dan pengajaranNya. Semua yang dilihatnya
dapat dikenalinya sebagai peristiwa-peristiwa dari Kitab Injil yang
telah dikenalnya dengan baik dan akhirnya ia-pun dibawa sampai ke Golgota
dimana Yesus tergantung pada kayu salib. Di kiri dan kananNya tergantung
pula kedua penjahat. Justru disinilah ia terpaku tanpa daya. Dengan
penuh kepiluan ia berseru :
“Ya
Tuhanku dan Allahku ! Ampunilah aku !” ,
sambil sujud menyembah.
Dari puncak salib suara Yesus yang telah begitu akrab dikenalnya menyapa
dengan lembut :
”Inilah
Aku yang kau cari, Aku ada bersamamu”
Tidak ada keraguan lagi dalam hatinya bahwa inilah Yesus, Tuhan dan
Allahnya yang ia cari dan sembah selama ini. Yesus kembali menyapanya
:
”AnakKu,
setelah engkau melihat dan menerima Aku, engkau akan menderita”.
Kembali, tidak ada sedikitpun keraguan baginya untuk menderita bagi
Tuhannya. Walaupun demikian, ia memohon agar ia diperkenankan ikut
bersama Yesus karena baginya perjalanannya mencari Tuhan sudah sampai
pada akhirnya, ia sudah bertemu dengan Tuhannya. Tetapi Yesus menjawabnya
:
“Pulanglah anakKu, suatu saat engkau akan dibutuhkan orang banyak”.
Tak terpikirkan
olehnya saat itu bahwa saat dimana Tuhan akan memakainya demi kebutuhan
orang banyak masih pada lima
belas tahun kemudian……….
Ramalan
penderitaan oleh Yesus mulai terwujud. Mulai dengan penyakit yang
dideritanya selama satu setengah tahun dan menghabiskan
fisiknya
bahkan sampai lumpuh. Dokter tidak dapat menemukan penyakitnya bahkan
mengatakan bahwa ia tidak sakit. Dan selama itu Yesus seakan-akan bungkam
kembali. Tidak ada suara yang menyapanya, tidak ada suara yang menghiburnya,
tetapi kali ini justru hatinya tetap tenang dan imannya tetap kokoh.
Tuhan mempunyai rencanaNya sendiri dan tengah memantapkan iman anakNya.
Bahkan Yesus semacam membiarkannya ‘terbanting-banting’ dan
ikut dalam usaha-usaha dunia yang diusahakan keluarganya untuk kesembuhannya.
Tidak ada satupun usaha dunia itu yang berhasil. Setelah satu setengah
tahun menderita sakit sampai tinggal kulit membungkus tulang, dan Romo
paroki-pun telah memberikan Sakramen Perminyakan; ia yang tak pernah
sedikitpun meninggalkan kehidupan doanya, berdoa pasrah pada Yesus
:
“Tuhan,
ampunilah perjalananku selama ini. Bila saat ini Tuhan mau memanggil
saya, saya sudah siap”.
Tuhan Yesus datang kembali dengan suaraNya yang lembut, suara yang
begitu dirindukannya :
“AnakKu, Aku mengasihimu sampai saat ini. Aku tak pernah meninggalkanmu.
Sembuhlah engkau dalam NamaKu”.
Tanpa
tambahan obat apapun, ia sembuh sama sekali dari penyakitnya dan
kondisi badannya berangsur pulih. Penderitaan berikutnya
adalah
anak-anaknya yang bergantian masuk keluar Rumah Sakit dengan penyakit
yang cukup parah. Tidak sedikit harta ‘dunia’ dihabiskan
untuk pembiayaan karena membutuhkan dokter-dokter swasta karena dokter
pemerintah telah angkat tangan. Penderitaan demi penderitaan dialaminya,
tetapi demikian juga mujizat demi mujizat diterimanya.
“Lewat penderitaanmu Aku akan menunjukkan kuasaKu”,
sabda Tuhan.
4. BIMBINGAN RASUL YOHANES
Tahun demi tahun berlalu. Suatu hari di tahun 1990, di kala ia menjalankan
tugas-tugas rutin sebagai ibu rumah tangga, ia dikejutkan oleh sapaan
seseorang dalam suara yang tak dikenalnya :
“Agnes, Agnes !” sapanya.
Namun
sapaan itu tidak diacuhkannya. Hari-hari berikut sapaan itu datang
kembali dan tetap tidak diacuhkannya. Suatu hal
yang cukup mengherankannya
adalah, ia tidak merasa takut atau ‘merinding’ oleh sapaan
tersebut. Begitu sering sapaan itu datang sehingga ia merasa kesal.
Maka iapun berdoa memohon pada Tuhan Yesus, agar ia dibebaskan dari
pengaruh roh-roh yang sedang mengganggunya. Namun sapaan ini terus
saja berlanjut, sampai kurang lebih satu minggu lamanya.
Suatu hari saat ia disapa oleh suara yang sama, ia memberanikan diri
untuk menjawab, katanya :
“Baiklah,
saya tanggapi sapaan anda. Siapakah anda sebenarnya?”
Hal ini terpaksa dilakukannya karena ia tidak berhasil mengusirnya.
Suara itu tidak langsung menyebutkan identitas dirinya, namun beliau
mengatakan :
“Agnes,
ambillah Kitab Sucimu,
karena disana kau akan tahu dan kau akan lihat siapakah aku
ini !”
Maka
ia mengambil Kitab Injil dan suara itu memintanya membuka Kitab itu,
dan terus melewati halaman demi halaman………terus,
terus, terus,……akhirinya sampailah pada Injil karangan
Yohanes. Suara itu balik bertanya :
Ibu Agnes menjawab :
“Bukankah
ini Rasul Yohanes murid kesayangan Yesus?”
Maka kata suara itu lagi :
“Inilah aku sekarang yang datang. Kamu harus percaya “.
Akhirnya Ibu Agnes bersedia menerima. Ia mengucapkan terima kasihnya
kepada Rasul Yohanes yang telah berkenan menyapanya dan minta maaf
karena sudah sekian lama tidak mengacuhkannya.
Dalam perjalanan selanjutnya, Rasul Yohanes mengajak Ibu Agnes banyak
berdoa dalam mempersiapkan dirinya tanpa menyebutkan apa maksud dan
tujuannya. Beliau mengajak agar Ibu Agnes melakukan saja apa yang
dinasehatkannya, yaitu :
- Pemeriksaan batin dan pertobatan.
- Penyangkalan diri.
- Mengampuni kesalahan orang lain
- Tidak mengingat kembali perbuatan baik yang telah dilakukan, karena
akan membuat diri menjadi
sombong.
- Diajar untuk meningkatkan intensi doanya secara terus menerus agar
lebih dekat dengan Tuhan
- Dipandu oleh Rasul Yohanes dalam memahami isi Kitab Suci: tentang
Allah, Kebenaran, Kasih dan cinta dsb.
Selanjutnya beliau mengarahkan ibu Agnes pada rencana Allah yang harus
terjadi, tapi tanpa menyebutkan maksudnya. Ini berlangsung selama kurang
lebih lima tahun sampai dengan tahun 1995. Ia mengingatkan Agnes pada
pesan Yesus bahwa ia akan dipakai Tuhan demi kebutuhan banyak orang.
“Mulai saat ini kau harus siap Agnes, karena tidak lama lagi
kamu akan kedatangan banyak tamu di rumahmu ini”.
5. SAPAAN DAN PENAMPAKAN IBU MARIA SERTA PESONA SURGAWI
Dapat dimengerti bahwa doa terindah yang dicintainya sesudah dibaptis
adalah doa rosario, dialog dengan Ibu Maria yang dikaguminya dan kini
semakin dicintainya. Sejak awal tahun 1994 dalam masa-masa persahabatannya
dengan Rasul Yohanes, saat - saat ia selesai berdoa rosario ia mulai
mendengar sapaan dengan suara yang berbeda dari suara Yesus maupun
Rasul Yohanes
“Terima
kasih anakku, engkau datang menghormati aku dengan doamu“.
Atau hanya
sapaan lembut dan singkat : “Terima kasih Agnes“.
Cara menyebutkan
namanya begitu khas, begitu manis. Ia saat itu memikirkan Ibu Maria
karena sapaan-sapaan itu :.. … engkau datang menghormati
aku dengan doamu…….
Ia menceritakannya pada suaminya, dan suaminya menanggapi “Mungkinkah
itu Ibu Maria?”
Tanggal 24 Maret 1995 merupakan tanggal bersejarah lain dalam hidupnya.
Untuk pertama kalinya ia berziarah ke Sendangsono dalam rombongan kecil
: Ibu Fransisca Nurbiyantoro, Ibu Maria Goretti Sunaryo, Ibu Suparman,
Sdri. Ita dan Tony Martinus, putera ke- empatnya.
Hari sudah mulai sore, kurang lebih pukul 15.30. Di depan gua cukup
banyak orang berdoa hingga rombongan kecil ini tidak mendapat tempat.
Karenanya mereka menyingkir sedikit jauh dari depan gua, agak turun
ke kanan dekat makam para katekis pertama. Tetapi justru di sana Ibu
Maria datang menampakkan diri dan menyapanya lembut, sama sekali tanpa
mengejutkannya :
“Selamat
datang anakku“ ,
adalah sapaannya yang pertama.
Terpesona ia oleh kecantikan wanita itu. Tanpa keraguan bahwa inilah
Ibu Maria sendiri karena ia mengenali suaranya. Rupanya Ibu Maria sudah
merintis dengan beberapa kali menyapa dia saat berdoa rosario di rumah.
Wanita
itu masih muda, kurang lebih 18 tahun usianya, tetapi kelembutan
keibuan terpancar dari kecantikannya ini. Pakaiannya
putih panjang
menutupi sampai ujung kakinya yang tidak menapak pada tanah. Ada kerutan
jahitan pada lingkar leher dengan simpul tali dari bahan yang sama
dengan bajunya, demikian juga ada kerutan pada lingkar perutnya tanpa
memakai pita pengikat pinggang. Model lengan bajunya panjang, longgar
dengan tepian lebar (mansett) pada ujung pergelangan tangannya yang
juga dijahit berkerut. Baju dan lengan bajunya bergetar lembut tertiup
angin. Rambutnya hitam, sedikit ikal terlihat pada bagian depan karena
kerudungnya sedikit tersingkap. Kerudungnya putih menutupi seluruh
kepala, hingga tak terlihat apakah rambutnya pendek atau panjang. Bahkan
kerudung ini cukup panjang hampir sampai kepinggangnya. Ketika berbicara
bagian bawah kerudungnya yang menjuntai disampirkannya pada lipatan
lengan kiri dan kanan. Walaupun pakaiannya begitu sederhana – pakaian
harian seorang ibu rumah tangga biasa – kecantikannya mengatasi
segalanya. Raut wajahnya bulat panjang, dagunya lancip sedikit terangkat
ke depan pada ujungnya dan terbelah pada tengahnya. Matanya dalam dan
sangat indah cemerlang. Alisnya sedikit tebal dan tulang alis agak
menonjol, matanya besar dan berbinar-binar. Bola matanya berwarna coklat.
Hidungnya sangat khas sekali, mancung, panjang tetapi bukan meninggi
melainkan jarak dari pangkal hidung atas (antara kedua mata) ke bawah
(atas bibir) lah yang agak lebih panjang dari ukuran rata-rata. Hidung
indah ini bercuping kecil, tidak melebar. Pada tulang hidung agak ketengah,
ada sedikit lengkungan (khas Ibrani). Mulutnya sedikit mungil. Bibirnya
hampir selalu tersenyum manis, giginya tidak terlihat. Samar-samar
terlihat dekik / lesung pipit di kedua sisi pipi dekat mulutnya. Bukan
hanya ketika ia tersenyum tetapi juga ketika ia berbicara. Tangan kirinya
lebih sering ditaruhnya di dada, tangan kanannya selalu digerakkan
dengan gerakan gemulai dan tenang, dengan telapak tangan menghadap
ke dalam, kadang-kadang ke atas.
Dengan sikap ini saat ia berbicara, sungguh terlihat bahwa ia berbicara
dengan perasaan yang dalam, dengan sepenuh hatinya.
“ Menangislah
dan bertobatlah,
kembalilah kepada Allah. Pujilah Allah dalam hidupmu.
Engkau akan selamat di dunia dan akhirat; Surgalah tempatmu.
Sampaikanlah pesan ini kepada saudara-saudaramu yang lain . Sampai
bertemu lagi anakku”.
Terpesona sungguh ia oleh penampakan ini. Dengan hati penuh syukur
ia terpana. Sementara anggota rombongan yang lain tidak melihat apa
yang dilihatnya tetapi tahu bahwa telah terjadi sesuatu, karena merekapun
saat itu mendapat pengalaman yang indah mempesona. Matahari yang masih
terik pada sore hari itu tiba-tiba meredup pancaran sinarnya yang menyilaukan
dan terlihat dengan mata telanjang sebagai bulan purnama besar dan
putih. Sekelilingnya berwarna merah oranye dan berpendar-pendar. Tak
lama diam seperti itu, matahari tiba-tiba bergoyang bergerak berputar
dalam lingkaran merah oranye itu, ke kanan dan ke kiri, lalu mulai
berubah warna. Yang tadinya putih menjadi tertutup semacam filter hijau
tosca dan berganti biru muda, berganti-ganti dan bergerak agak bergeser
ke kanan dan kekiri atas dan bawah lalu kembali lagi ke tengah. Langit
di sekeliling biru terang dan di sana-sani berwarna-warni. Pesona surgawi,
mungkin itulah kata yang tepat karena memang mereka semua sungguh terpesona
saat itu. Tidak ada pemandangan indah yang melebihi itu yang pernah
mereka alami / lihat. Perasaan merekapun tak terlukiskan, penuh sukacita
dan damai.
Ketika Ibu Agnes menceritakan pada mereka bahwa Ibu Maria baru saja
menampakkan diri, sukacita merekapun bertambah. Ibu Fransisca cepat-cepat
mengambil kertas untuk mencatat pesan Ibu Maria yang pertama, yang
sangat singkat itu. Selanjutnya pesan itupun disampaikan kepada rombongan
ibu-ibu wanita Katolik dari Semarang yang duduk tidak jauh dari tempat
mereka. Saat itupun Ibu Agnes sempat menegur orang-orang di sekitarnya,
karena mereka berjalan kesana kemari; makan, ngobrol dan bukannya berdoa.
Walaupun diberitahukannya bahwa Bunda Maria ada di antara mereka, masih
juga mereka tidak percaya. Padahal saat itu Ibu Maria berada cukup
lama bersama para peziarah itu, sampai pukul 17.00.
6. PENAMPAKAN-PENAMPAKAN DI RUMAH
Tanggal 2 April 1995, pagi hari, ketika baru selesai dengan pekerjaan
di rumah seperti yang rutin dilakukannya, ibu Agnes duduk diam di kursi
menghadap meja makan dan pandangannya ke arah belakang rumahnya. Dari
sana dapat terlihat langit biru di pagi hari karena pekarangan rumahnya
yang cukup luas. Tiba-tiba langit berubah warna dan kembali ia mendapat
penglihatan pesona surgawi seperti di Sendangsono seminggu yang lalu.
Tetapi ia tetap tinggal dalam rumah dan tidak pergi ke luar. Pemandangan
itupun hilang dalam sekejap, dengan tiba-tiba matahari nampak sama
seperti sebelum pesona terjadi.
3 April 1995, kurang lebih pada waktu yang sama, pagi hari, ia mendapat
penglihatan yang sama : pesona surgawi. Anaknya, Tony, yang juga ikut
ke Sendangsono ada di rumah saat itu dan juga melihat pesona itu. Tony
kemudian bertanya apakah mungkin Bunda Maria juga akan datang menampakkan
diri ? Ia kemudian minta agar Tony memanggil Ibu Fransisca yang rumahnya
dekat, masih satu kompleks perumahan, untuk mengkonfirmasikan kejadian
itu. Saat Ibu Fransisca tiba, pemandangan itu masih tetap ada. Suami
Ibu Fransisca, Bapak Nurbiyantoro-pun melihatnya. Ia kemudian berangkat
ke kantor, tetapi bahkan di sana ia tetap masih dapat melihat pesona
itu. Ibu Agnes dan Ibu Fransisca sepakat untuk berdoa rosario bersama.
Pada saat berdoa itulah Ibu Maria menampakkan diri kembali pada Ibu
Agnes; Ibu Fransisca tidak melihat Ibu Maria.
Pesan yang pertama di Cimahi ini isinya minta agar Ibu Agnes mengumpulkan
orang-orang untuk berdoa rosario bersama dan agar rumah Ibu Agnes dibersihkan
untuk tempat berdoa. Ibu Maria mengungkapkan keprihatinannya atas anak-anaknya
:
“Anak-anakku banyak yang pintar berdoa tetapi tidak berbuat
apa-apa, mereka sibuk dengan dunianya sendiri. Maka aku datang ke sini
untuk mengajak anak-anakku untuk berdoa dan berbuat kasih kepada saudara-saudaramu
yang menderita”.
“Aku datang ke sini untuk membawa anakku kepada Allah. Karena
akan terjadi tiga hari kegelapan di seluruh bumi, tidak ada matahari,
bulan, bintang ; ini akan terjadi pada awal tahun. Ini semua merupakan
tanda, agar manusia sadar untuk kembali kepada Allah”.
Hari yang dipilih Ibu Maria adalah hari Senin yang akan datang (10
April 1995), dan Ibu Maria akan hadir. Ibu Maria bahkan mengatakan
akan datang setiap hari Senin.
Lebih
kurang pukul 10.30 mereka berdua bergegas menemui pastor paroki St.
Ignatius Cimahi yang letaknya tidak begitu jauh
dari rumahnya.
Disampaikannya pengalaman rohani yang dialaminya pagi itu kepada pastor
Warhadi, OSC. Selaku pastor paroki beliau mengatakan bahwa apabila
itu semua karya Allah, maka tidak ada seorangpun yang dapat menghalanginya;
namun bila itu dari dunia ini, maka sebentar juga akan lenyap. Ibu-ibu
bertanya kembali pada pastor : “Apakah Pastor berkeberatan apabila
kami berkumpul dan berdoa bersama di rumah kami seperti yang dipesankan
Ibu Maria? “ Pastor menjawab : “Silahkan kalian berkumpul
dan berdoa untuk membuktikan apakah pesan tersebut benar-benar dari
Ibu Maria, namun jangan banyak-banyak. Ajaklah teman-teman dari lingkungan
untuk berdoa bersama-sama”.
Apabila Pastor memberi dukungan, tidak demikian dengan Bapak Tarcisius
Sawarno. Mendengar cerita isterinya ia bukannya berbangga melainkan
sebagai perwira menengah ABRI ia malah mengingatkan Ibu Agnes agar
tidak bertindak terlalu jauh jangan-jangan ini semua berasal dari yang
sesat.
7. PENAMPAKAN IBU MARIA DI GEREJA ST. IGNATIUS - CIMAHI
Mendapat tanggapan demikian dari suaminya Ibu Agnes merasa sangat
bingung. Malam berikutnya 4 April 1995 diajaknya Ibu Fransisca menemaninya
pergi ke Gereja. Di depan patung Ibu Maria ia menangis dan berdoa :
“Bunda
Maria, tidak mungkin semua ini harus terjadi, karena saya tidak
akan kuat menghadapi keadaan yang terjadi saat ini”.
Demikian ungkapan doanya dalam isak tangisnya. Sampai satu minggu
lamanya Ibu Agnes terus berdoa pada Ibu Maria, di Gereja St. Ignatius
karena merasa takut dan bingung.
Pada mulanya masih ada ke-engganan Ibu Agnes untuk menerima tugas itu.
Ia merasa sangat tidak pantas dan merasa tertekan. Ia mengeluhkan perasaannya
ini pada Ibu Maria dalam doa-doanya. Menurutnya yang pantas mendapat
tugas ini adalah para orang suci, para pastor, biarawan- biarawati,
rohaniwan-rohaniwati dan bukannya dirinya. Ibu Maria menguatkannya
dan mengatakan semua mereka sama di hadapan Allah yaitu anak-anak Allah.
Namun apa yang terjadi? Saat itu, Ibu Maria hadir dan menampakkan
diri dan berkata :
“Agnes,
baiklah Aku mau bertanya kepadamu. Kamu sudah diselamatkan dari
dunia ini
dan sekarang ini kamu menjadi anak
Allah. Apa yang sudah kamu berikan kepada Allah ?”
Jawab ibu Agnes:
“Belum
ada yang saya berikan kepada Allah, Ibu.”
Ibu Maria berkata :
“Saat
inilah kau persembahkan hidupmu kepada Allah. Agnes jangan kau takut
dan
kuatir, berdoalah, mintalah kepada
Allah, nanti kau akan mendapatkan jawabannya.”
Dan saat
itu juga ibu Agnes berdoa : “Ya Allah tolong aku”.
Setelah berdoa, ibu Agnes merasakan suka-cita, bahagia dan kedamaian
yang sangat dalam. Roh Tuhan menguasai dirinya, semua kekuatiran dan
ketakutan hilang lenyap dan yang ada hanyalah kepasrahannya pada Allah.
Kemudian Ibu Maria bertanya kembali :
Jawab Ibu Agnes :
“Ya
saya siap Ibu. Saya bersedia”
Dan
Ibu Agnes bertanya kembali :
“Ibu
bagaimanakah caranya menyampaikan ini kepada orang banyak? Apakah
dari rumah ke rumah ?”
Jawab Ibu Maria :
“Bukan
begitu, kumpulkan saja mereka. Berkumpullah nanti pada senin
pagi. Tidak usah banyak-banyak, cukup beberapa orang saja, nanti
mereka
akan Kujadikan saksiKu. Jangan khawatir anakku! Akan kubuktikan
dan
kutepati janjiku.”
Kemudian Ibu Agnes bertanya kembali:
“Ibu,
apakah pekerjaan ini harus saya kerjakan sendiri? Apakah saya
sanggup?”
Ibu Maria menjawab :
“Jangan
kuatir Agnes! Mereka akan kupanggil bekerjasama denganmu untuk
menyampaikan Kebenaran ini. Allah dan Aku Ibumu akan
menyertaimu dalam perjalananmu ini.”
Pada saat mendengar jawaban Ibu Maria, legalah hatinya.
Tetapi walaupun demikian karena setiap kali di rumah selalu diingatkan
oleh suaminya dengan kata-kata yang sama: “Hati-hati, kalau
itu tidak terjadi, keluarga kita akan malu”, nyaris setiap
hari Ibu Agnes menangis dan berdoa mohon kekuatan. Dan begitu baiknya
Ibu Maria, karena ia selalu datang dikala Ibu Agnes dalam kesulitan
dan menghiburnya.
8. PESAN PERTAMA PADA UMAT DI CIMAHI
Senin, 10 April 1995. Sejak pukul 05.00 pagi hari benar Ibu Agnes
sudah menyiapkan diri. Tapi ketakutan kembali mencekamnya. Ketakutan
bahwa tidak akan ada apapun yang terjadi, bahwa ternyata itu semua
benar-benar dari kuasa kegelapan. Suaminya juga menyiapkan diri, mandi
pagi dengan niat agar dapat segera meninggalkan rumah sehingga tidak
perlu melibatkan diri dengan seluruh peristiwa itu.
Pukul
06.00. para kenalannya dari lingkungan sudah datang kurang lebih
26 orang, termasuk suaminya yang saat itu belum
berangkat. Saat itu
matahari baru saja naik dan tiba-tiba kembali terjadi pesona surgawi
matahari seperti yang terjadi di Sendangsono dan minggu lalu di rumah
itu. Langit ditebari bermacam-macam warna cerah, indah sekali. Matahari
tampak bagai bulan purnama dapat dilihat dengan mata telanjang. Semua
terpesona, tercekam kagum oleh pemandangan indah yang dapat mereka
lihat saat itu. Suaminya terpukau dan mengakui : “Sungguh ini
datang dari Surga!” Kemudian doa rosario di daraskan bersama-sama,
dan sekitar pukul 06.15 Ibu Maria menepati janjinya. Beliau hadir dan
menyapanya, katanya :
“Engkau
melihat kuasa Allah yang telah datang melalui Aku, namun sampai
saat ini engkau belum juga percaya, Agnes
!”
Saat itu Bapak Tarcisius mendapat anugerah yang sama. Ia mendapat
penampakan Ibu Maria yang sangat mengharukan hatinya. Ini dianugerahkan
Ibu Maria padanya agar ia percaya dan mendukung isterinya.
Selanjutnya Ibu Maria berpesan agar memanggil Pastor untuk memberkati
ruang doa dan membawa air dari rumah masing-masing untuk penyembuhan.
Dan ajaklah saudara-saudara untuk berdoa bersama Ibu Maria karena
mereka akan dijadikan saksi Kebenaran ini. Dan minta agar umat setia
berdoa rosario, berpuasa, berpantang dan bermati raga pada setiap
hari Jumat agar terhindar dari Roh yang jahat. Pesan-pesan Ibu Maria
ini disampaikan dengan ‘memakai Ibu Agnes sebagai perantara
suara dan kehadiran Ibu Maria oleh kuasa Tuhan’.
Pada setiap
saat umat berkumpul dan berdoa bersama dalam kelompok, Ibu Maria
hadir. Ini dilakukan setiap hari Senin
dan setiap waktu yang
diminta oleh Ibu Maria. Pada tahun 1995 Ibu Maria hadir dan menyampaikan
pesan-pesannya yang pertama. Pesan-pesannya mula-mula hanya dicatat
secara pribadi oleh beberapa orang, lalu disalin dan dibukukan dalam
buku sederhana : “PESAN-PESAN BUNDA MARIA DARI TANGGAL 3 APRIL
- 22 DESEMBER 1995”
Sejak saat itu satu persatu dari mereka yang hadir mendapatkan sentuhan-sentuhan
Tuhan dan Ibu Maria. Begitu banyak cerita mengharukan pada saat-saat
sharing: kesembuhan, penguatan, dan pertobatan.
---ooo0ooo--
|