Doa Bersama Kelompok Pelayanan Kasih Dari Ibu Yang Bahagia

Jumat Pertama bulan April 2009

Di Aula Sekolah St. Fransiscus, Kp. Ambon, Jakarta, 3 April 2009

 

 

Pengantar oleh Ibu Agnes

 

Romo Isak Doera yang saya kasihi.

 

Romo Thomas.

 

Romo Widi yang sedang istirahat di susteran.

 

Sr. Margaretha dan Sr. Marita yang saya cintai, para frater, Sr. Rina dan Sr. Endah, terima kasih ya atas kehadirannya ya.

 

Di sini juga ada saudara kita juga yang hadir dari Turki. Beliau mungkin masih menjajaki siapakah Yesus yang sebenarnya. Padahal dalam imannya dia itu, Yesus itu adalah sungguh-sungguh Allah. Bahasa Arabnya mungkin dia akan mendengarkan apa yang saya omong.

 

Begini bahasa Arabnya, supaya dia mendengar: Isa….

(Ibu Agnes mendaraskan kutipan dalam bahasa Arab yang tertulis di Qur’an mengenai Yesus, yang disapa Isa Almasih, red )

Artinya : Isa itu adalah Roh Allah dan firmanNYA. Biar dia dengar sekarang! Amin.

 

Itu, ada.(dalam Kitab mereka , red) Kemarin, Bapak (Pak Sawarno ) berkata: ”Kasihan ya mereka tidak diperkenalkan tentang Yesus”.

 

Akh, koq, kita bodoh. Dalam Buku mereka itu diperkenalkan Isa Almasih, tapi mereka tidak mau menerima Isa Almasih itu sendiri dalam mereka mengimani.

 

”Oh, ada?”, Bapak terus diam.

 

Ada! Mereka baca setiap hari, kapan saja bisa mereka baca itu, kitab sucinya itu tentang Isa Almasih. Sudah kenal, tapi tidak mau menerima dia menjadi Tuhannya. Itu saja kok.

 

Ini supaya dia ( tamu orang Turki, red ) dengar yang saya katakan ini. Dia cari siapakah Isa Almasih itu. Dialah Tuhan, Dialah Allah yang Maha Kuasa yang bertakhta di surga, yang menguasai dunia dan akhirat. Itulah Yesus, Allah yang Maha Kuasa.

 

Ada teman kita, orang Turki ini disini. Biarkanlah Roh Kudus bekerja dalam hidupnya, supaya dia juga boleh diselamatkan dalam Yesus Tuhan. Mungkin malam ini Tuhan mau menolong saudara kita yang dari Turki ini yang hadir di sini.

 

Baiklah saudara-saudaraku yang dikasihi Tuhan Yesus dan Ibu Maria, saya mau menyampaikan sedikit, ya, bagaimana kita beriman yang sebenarnya kepada Tuhan. Kita tidak tergantung kepada siapapun, tapi kita mempunyai iman, kedekatan kita kepada Tuhan, supaya apapun yang akan terjadi dalam hidup saya dan anda tidak tergoyahkan.

 

Sungguh! Beriman, percaya! Kalau kita percaya, kita menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan. Kemarin, saya mengantar ibunya Bruder Petrus dan Sr.Anna, sebentar lagi dia akan pakai jubah. (Petrus dan Ana ) Mereka sibuk, takut ibunya meninggal. Apalagi, Anna. Dia calon suster, takut. Jangan meninggal ibu saya. Dan semua berpikir yang sama. Saya bilang sama Anna, harusnya kamu lebih dari saudara-saudaramu, karena engkau akan menjadi seorang suster yang mengabdi kepada Allah. Dan kematian itu, kau akan mengerti bahwa kematian itulah jalan satu-satunya. Kita akan bertemu dengan Allah di surga.

 

Kemarin itu, mereka sekeluarga sibuk banget.

 

“Bagaimana Ibu Agnes? Begini..begini….”

 

Saya menegur mereka : ”Kok, kamu belum maksimal untuk menolong mengantar mamamu dalam kesembuhan, tapi kamu berpikir yang macam-macam, itu kamu tidak beriman”.

Pikiran-pikiran kita yang hal-hal seperti itu, justru kita kembalikan kepada Allah.

Ternyata, ya, sekarang ibunya tertolong dengan baik. Dan akhirnya pada menangis. Ya, kami semua merenungkan kejadian ini bahwa kami harus beriman dan berpegang teguh dan bersandar hanya kepada Allah.

 

Ini yang mau saya sampaikan pada malam ini, supaya kita mulai beriman itu bukan tergantung kepada romo, kepada siapapun . ….Tidak!

Kita pribadi, relasi kita kepada Tuhan, itu yang terpenting. Saat-saat ini, ya, karena Tuhan Yesus mengatakan: ”Siapa yang menutup hatinya, ia akan tertutup.”

Susah membukanya.

”Tetapi siapa yang membuka hatinya sedikit saja, AKU ada dalam kehidupannya.”

 

Ini, saat terakhir. Siapa yang nakal akan nakal terus. Kalau dia tidak bertobat, tambah nakal terus, tambah jahat terus. Kenapa Tuhan kok tidak menolong?

Bukan tidak menolong, manusia itu sendiri yang tidak menolong dirinya untuk datang kepada Allah. Allah tidak akan memaksa manusia. Allah memberikan kebebasan kepada manusia. Sejauh manakah kebebasan itu yang kita lalui, yang kita lakukan. Bukan kebebasan itu menurut kehendakku, tetapi kebebasan itu menurut kehendak Allah-lah yang terjadi dalam hidup saya dan anda.

 

Dan saya juga akan memberitahukan, saya diprotes oleh Rm.Lukas:

”Bagaimana Ibu Agnes, kamu melarang orang kawin campur, tapi kamu sendiri kawin campur?.”

 

Sesungguhnya saudara-saudara, bagi saya saja yang terpanggil untuk datang kepada Yesus, saya harus berjuang, apalagi mereka yang kawin campur tetapi tidak mempersiapkan dirinya dengan baik, wah… bisa celaka! Jiwanya akan celaka, terseret oleh dunia. Kalau kita sudah siap untuk kawin campur, silahkan saja. Asalkan kita mempertanggungjawabkan iman kita kepada Allah. Kalau bisa kita bawa pasangan kita itu untuk datang kepada Allah untuk diselamatkan jiwanya.

 

Jadi, salah pengertian Romo Lukas memarahi saya. Tapi, saya bilang, sudahlah romo, kalau romo tidak percaya , ya sudah tinggalkan saja.

 

Nah, ini! Seorang imam tidak semudah itu juga untuk percaya. Karena harus percaya itu, kita mulai dari diri kita sendiri, bukan paksaan.

Kalau kita tidak terbuka, nggak bisa. Itu kembali kepada pribadi masing-masing. Jadi, kita mengimani Tuhan itu bukan tergantung kepada siapapun, tapi kita menggantungkan diri kita kepada Allah. Allah paling suka, kalau kita menyerahkan diri kepada dia seutuhnya. Paling disukai. Maka, carilah! Maksudnya, kita berjuang untuk mencari dia, karena kita cinta, kita rindu akan Tuhan.

 

Indah, lho! Saya membandingkan masa lalu saya dengan sekarang, …Wah! nggak ada apa-apanya. Sekarang rasanya, Tuhan itu dekat banget. Indah banget! Mau ada kesulitan apa saja, rasanya tenang-tenang mendayung. Tahu nggak nyanyinya? (Bu Agnes menyanyi lagu ‘Tenang-Tenang Mendayung’, red)

 

Ini yang mau saya sampaikan, ya. Kita lihat saat-saat terakhir ini, banyak peristiwa-peristiwa akan muncul. Di mana kita berada, di mana anda akan mengalami, suka-duka. Kalau anda tidak mandiri dalam iman, kacaulah!

 

“Kata Ibu Agnes bagaimana ya?”……….

 

Kok, Ibu Agnes lagi ?! Tidak bisa!

 

Saat-saat ini, Ibu Maria mengajak kita untuk mandiri dalam iman, karena kita akan mengalami sendiri secara pribadi, dalam keluarga, dalam kebersamaan, maupun dalam kelompok. Kalau kita tidak siap akan mengalami itu bencana-bencana yang seperti di situ gintung, ‘tsunami darat’ bukan tsunami laut.

 

Maka disitulah kita diajak Ibu Maria mulai membenahi diri kita masing-masing. Apa yang sudah saya buat? Apa yang belum saya buat? Mulailah hati kalian melayani. Mulai dari keluargamu, suami-istri, orangtua terhadap anak, anak terhadap orangtua. Kamu melayani dalam keluargamu, baru kamu nanti melayani keluar. Tidak mungkin kamu keluar dulu baru masuk.

 

Ini yang Ibu Maria mintakan karena Ibu Maria mau mempersiapkan kita dengan baik untuk menghadapi pemurnian. Kita akan mengalami nanti, sama-sama. Aku juga mengalami. Tapi kalau anda takut, bukan berdoa, malah pada kabur semuanya. Terus piye (bagaimana, red) ?

 

Tidak!

 

Anak Ibu Maria harus kuat dalam iman. Anak Ibu Maria harus mandiri, bersatu dengan Tuhan secara pribadi, utuh. Itu yang penting! Apapun yang terjadi kita siap menghadapi. Tuhan akan menyelamatkan kita masing-masing, karena imanmu yang akan menyelesaikan segala permasalahan yang akan kita hadapi. Iman! Kembali..iman! iman!

 

Tanpa iman, …bohong! kita tidak bisa berbuat apapun tanpa iman. Karena, iman itu adalah kita bersatu dengan Allah, Allah akan hidup dalam kehidupan kita pribadi dimanapun kita berada.

 

Allah itu dekat. Tidak seperti allah-nya orang Islam. Jauh! Jauh banget! Setengah mati mereka panggil-panggil tidak ketemu.

 

Tapi, Allah-nya kita, orang kristiani, dekat sekali, cuma kita yang bandel, selalu jauh karena kesibukan-kesibukan pribadi, karena dunia. Karena dunia itu seolah-olah menjanjikan kepuasan, kebahagiaan yang semu, kesenangan yang sementara. Itu yang disukai daging daripada kita menyukai yang abadi. Tapi boleh! Silahkan anda bekerja tetapi juga berdoa , berdoa dan bekerja dan melayani.

 

Arti melayani ini sangat penting, karena sudah ada tertulis dalam Kitab Suci. Jangan dipotong-potong, apa yang dikatakan di Kitab Suci, hanya karena kita tidak suka. Dosa kalau kita memotong-motong perkataan Tuhan dalam firman-NYA.

 

Allah sudah mengajari kita untuk saling mengasihi, saling melayani. Tapi, kita susah untuk melayani. Melayani itu berat sih, ya? Rasanya banyak anak-anak Ibu Maria yang sulit untuk melayani.

 

“Ah, itu urusanmu. Urusanku banyak banget!”

Sampai kapan kita mau melayani sesama kita? Tuhan, sampai saat ini juga melayani kita dengan cintaNYA yang sempurna yang diberikan kepada kita. Tanpa pelayanan Tuhan, kita tidak bisa seperti ini. Pasti kita dikacaukan oleh kuasa-kuasa kegelapan itu sendiri, sehingga kita tidak bisa beriman dengan baik.

 

Melayani itu kunci surga, lho, saudaraku. Ingat! Tidak cukup kamu berdoa, pandai berdoa sampai setengah jam, satu jam duduk. Tidak! Bohong! Berdoa kita wujudkan dalam pelayanan.

 

Sekarang, saya kasih contoh. Ada orang sakit, kita mengatakan ;”Ah, tunggu dulu! ‘Kan baru masuk.”

Kok, ditunda sih?! Apa yang sakit biar lama-lama di rumah sakit?

Mungkin orang yang sakit itu membutuhkan sesuatu dari anda. Anda tidak mau memberikan bantuan itu untuk saudara kita supaya dia sembuh?

Lalu, kita berdoa, “Yesus, tolong sembuhkan saudara saya, ya, supaya dia sembuh, bisa pulang.”

Terus, Tuhan menanyakan kembali,” Kamu minta dia disembuhkan. Lha, kamu sudah berbuat apa untuk saudaramu itu?”

 

Demikianlah dikembalikan oleh Yesus kepada kita. Kamu minta sama SAYA. Kamu minta kepada SAYA, kamu sudah berbuat apa kepada dia?

 

Malu nggak?

 

Lho, kan DIA, Maha Kuasa. Kita tidak usahlah berkorban materi, deh. Berkorban doa saja.

 

Tidak cukup! Tidak cukup!

 

Ini, saatnya kita berbuat baik. Kita mau melayani terutama dalam keluarga, ya. Kalau ada keluarga kalian yang kurang harmonis, tolong perbaiki. Dalam suami-istri atau anak-anak, atau orangtua kepada anak, mulai damai kalian. Mulai damai, ya. Karena dalam keluarga ini, apabila itu datang, Kuasa Allah itu hadir di bumi ini. DilihatNYA kita sudah hidup rukun dan sejahtera, Tuhan memberkati kita, ..selamat. Ya!

 

Sungguh, Ibu Maria mengajarkan kita untuk melayani. Namanya: Kelompok Pelayanan Kasih Dari Ibu yang Bahagia. Kita diajak oleh Ibu Maria melayani, berbuat kasih dan cinta bersama Ibu Maria yang sudah bahagia di surga. Indah sekali kan? Indah sekali! Maka muncullah Doa Kerinduan, rindu akan berbuat baik. Mana mungkin kita bisa bertemu dengan Allah, kalau kita tidak berbuat baik, melayani,…hanya ketemu dengan doa. Ah, nggak-lah! Tuhan bilang: “Apa yang sudah kamu perbuat? Kamu minta terus, tapi kamu tidak bekerja dengan baik.”

 

Itu yang dimintakan oleh Tuhan Yesus kepada kita. Ini yang mau saya sampaikan. Kita akan mengalami, lho. Akan mengalami kegoncangan nanti, kita semua.

 

Ini bukan menakutkan. Tidak! Tidak menakutkan, tapi ini sukacita. Nubuat tu diturunkan dari surga bersama Ibu Maria, karena kita adalah putra-putrinya, supaya kita itu siap menghadapinya. Yang percaya kepada Ibu Maria. Yang tidak percaya, tidak mendapatkan nubuat itu sendiri.

 

Orang Protestan sekarang mempersiapkan diri untuk menantikan akhir jaman. Sudah salah itu! Tidak usahlah kita bicara akhir jaman. Kita bicara tentang kematian saja. Itu akhir dari hidup saya dan anda. Akhir jaman itu, kita tidak akan mengalami, tapi pemurnian, kita akan mengalami. 

 

Pendeta-pendeta mengatakan untuk mempersiapkan untuk akhir jaman. Tidak!

Anak-anak Ibu Maria, sekarang kita akan menghadapi, akan menyambut pemurnian dunia. Dunia ini akan dimurnikan, kita boleh bahagia, bersatu dengan Allah. Kasih Allah yang begitu besar akan diberikan kepada kita. Berbahagialah kita semua yang mempunyai Ibu Maria di surga.

 

Bagaimana,sih, mencintai Ibu Maria itu? Kalau menurut anda, apakah dengan doa Salam Maria, sudah mencintai? Tidak!

Kita doa novena, doa Salam Maria, itu sudah menandakan kita cinta akan Ibu Maria? Nggak! Belum!

 

Ibu Maria mengajak kita:”Ayo anak-anakKu, mari kita melayani! Dan kamu melayani saudara-saudaramu di manapun mereka berada.”

 

Dengan segala macam cara kita boleh melayani. Bukan hanya materi saja. Jiwa dan raga, pikiran dan perasaan. Kita tidak jahat kepada orang, sudah melayani. Kalau kita membuat orang lain sedih dan menderita melalui sikap dan tingkah laku saya dan anda, itu sudah tidak melayani. Itu sudah membunuh secara pelan-pelan.

 

Itu sudah masuk sepuluh perintah Allah yang disempurnakan oleh Tuhan Yesus. Bukan kalau kamu membunuh, baru kamu melanggar, tapi kata Tuhan:”Kalau kamu menyakiti saudara-saudaramu sehingga mereka sedih dan menderita oleh sikap dan tingkah laku, kamu sudah membunuh. “

 

Tolong renungkan saat-saat terakhir ini. Kalian tidak usah takut. Kita bekerja sama saling mendoakan, saling melayani dimanapun kita berada. Enteng tangan, enteng kaki untuk menolong orang lain.

 

Karena sekarang ini, Kuasa Allah akan bekerja dan menunjukkan kuasaNYA untuk mempertobatkan banyak manusia. Silahkan! Bertobat atau tidak bertobat pemurnian tetap berjalan dan akan datang dan turun ke bumi ini.

 

Ini yang disampaikan oleh Ibu Maria.

 

Saya mohon kepada anda-anda sekalian, damai, ya. Kalian damai di dalam keluargamu, ya. Yang masih clash-clash itu, mulai menyatu kembali. Kubur dalam-dalam masalah yang kecil-kecil itu. Kubur dalam-dalam, tumbuhkan cinta, tumbuhkan kasih sayang diantara kalian berdua.

 

Dan kalian yang punya anak-anak remaja, jaga anakmu baik-baik. Jangan sampai mereka pergi meninggalkan Tuhan karena dunia. Resikonya berat buat kita sebagai orangtua dan juga anak-anak itu sendiri. Ini namanya menghojat roh.

 

Ini yang dipertanyakan Romo Lukas: “Kenapa tidak boleh kawin campur?”

 

Kawin campur silahkan saja, asalkan saja bisa menjaga dirinya baik dan setia. Setia yang diminta oleh Allah. Tapi, lebih baik jangan kawin campur. Itu saja! Kalau ada anak-anak anda yang mau kawin campur, harus kuat dengan Yesus. Tidak terjatuh ke jurang yang sangat dalam.

 

Karena kita semua mati sendiri, lho! Tidak ada yang nemenin. Ngerti nggak? Mati sendiri! Nah, kalau kita nggak siap, matinya megap-megap. 

Kita mau mati itu bahagia, ya. Kita mati itu sungguh-sungguh mengalami sukacita dalam Tuhan, bukan menakutkan. Kalau kita nggak siap, pasti kita takut. Jangan takut, ya! Semua akan mengalami kematian. Tapi dengan apa? Kesetian kita kepada Yesus harus ditingkatkan, supaya rakhmat kasih Tuhan yang sempurna itu akan kita terima dengan sempurna dalam hidup kita masing-masing.

 

Ini saja yang bisa saya sampaikan, saya berharap nanti saudara-saudara bisa membawa teman-teman. Kita akan bertemu bulan depan, mungkin tempat ini, kalau suster berkenan, boleh kita menempati tempat ini lagi, ya. Tolong kalian tidak usah khawatir dan mewartakan, ya. Wartakan saja, biar kuasa allah yang menyelesaikan.

Jangan takut dan khawatir! Tidak! Romo juga tidak bisa menyelamatkan kalian. Iman kalianlah yang menyelamatkan itu semua. Romo hanya melindungi, menjaga, membina rohani kita. Tapi, kalau Romonya melarang kalian, tidak usah patuh, karena kita mati sendiri. Romo itu tidak bisa mengantar kita ke surga. Hanya diri kita sendiri menghadap Allah.

 

Ini yang mau saya sampaikan. Jangan takut dan khawatir! Allah bersama kita. Ibu Maria mendoakan kita di surga. Anda percaya? Percaya nggak?

 

Percaya, jawab umat.

 

Percayalah! Kalau nggak percaya pulang aja. Itu pintu terbuka, tuh! Jangan ke sini hanya mendengarkan, tetapi anda tidak berbuat sesuatu, mengambil sikap dalam kehidupanmu. Mulai hari ini, aku dekat dengan Tuhan. Aku mulai bersahabat dengan Tuhan.

 

Jangan pada waktu kamu butuh, baru datang pada Yesus. 

 

“Jangan kamu datang hanya perlu meminta kebutuhanmu, tapi datanglah kepadaKU dan minta kepadaKU, supaya AKU datang masuk dalam kehidupanmu.”

 

Aduh! Yesus itu indah sekali, karena Yesus itu Tuhan, Yesus itu Allah yang menciptakan kalian. Yang menjadi manusia dan menebus kalian semua dan aku. Dekat sama DIA!

 

Kalian menyebut “Yesus” saja , itu suatu doa. Asalkan menyebut ‘Yesus’ itu memang ‘Yesus’ yang pasrah, bukan ‘Yesus’ yang menantang. Tidak! Berdoa dengan menyebut nama ‘Yesus’ dengan lembut saja, sudah merupakan satu doa yang sangat dalam. Dengan rindu, dengan cinta, kita menyebutkan nama DIA, dimanapun kita berada.

 

Ini yang mau saya sampaikan kepada anda sekalian. 

 

Mari kita persiapkan, karena ini sudah dekat sekali. Kita akan mengalami bermacam-macam. Suka dan duka akan kita hadapi. Kita lihat saja! Indonesia sudah porak poranda kan? Bukan saja di Indonesia, di seluruh bumi sudah mulai dimurnikan secara alam.

 

Tapi, kita dimurnikan. Yang penting kita dimurnikan secara pribadi dan mau dimurnikan secara pribadi. Kalau kita tidak mau dimurnikan, kita repot. Sakit! Dimurnikan itu sakit, karena meninggalkan semua keinginan-keinginan kesukaanku. Itu yang harus dilepas. Begitu, ya! Kita semua saudara. Tidak ada perbedaan si kaya dan si miskin. Jangan lagi berbeda seperti itu. Nggak! Kamu kaya,… menolong yang nggak mampu. Jangan si kaya terus jauh, bikin benteng kepada mereka-mereka.

 

Ibu Maria, tidak mau! Semua anak-anakNya: si kaya-si miskin, si jelek-si cantik, si cakep, semua anak Ibu Maria. Mulai hari ini, tidak ada lagi perbedaan diantara satu dengan yang lain.

 

Sungguh! Tuhan saja tidak membedakan kita, kok! Walaupun kita suka berbuat jahat dan jatuh dalam dosa, Tuhan tetap setia pada kita semuanya.

 

Saya berharap malam ini, kita merenungkan bersama apa yang harus saya perbuat untuk Tuhan, untuk keluargaku, untuk sesamaku dimanapun aku berada. Mulai berpikirlah untuk itu, karena itulah kekuatan kita nanti, saat kita akan mengalami pemurnian itu nanti.

 

Di sini sepertinya ada suami yang tidak akur dengan istrinya. Aku minta malam ini, kalian harus akur ya, seperti semula, karena kalian sudah disatukan oleh Allah, dua menjadi satu. Tidak bisa lagi dipisahkan dengan kemauanku, pikiranku, perasaanku. Tidak ada! Mati, baru kita pisah. Saya minta suami istri yang sedang bergulat, ya. Ada di sini. Ada!

 

Saya mohon kembalilah kalian, saling mengasihi dan mencintai. Tolong ingat perjanjian kalian pada waktu kalian diberkati. Setia untung dan malang, suka dan duka.

 

Untung dan malang! Setia! Gara-gara materi aja, terus kita berantakan dengan suami, dengan istri? Nggak! Tolong dong!

Mohon yang cowok-cowok, yang bapak-bapak itu berpikir kembali, apa tanggung jawabmu sebagai seorang suami. Kamu berdosa atas semua perbuatanmu yang telah kamu lakukan kepada istrimu dan anak-anakmu. Di sini ada! Saya mohon kembalilah kalian. Binalah cintamu kembali seperti semula saat-saat terakhir ini. Nanti, kalau kalian berpisah, apabila hari itu datang, suami ada di mana, istri ada di mana, anak ada di mana. Kalau kalian tidak mulai ada damai dalam keluarga itu, tidak bisa kalian bersatu saat-saat menyambut pemurnian.

 

Saya mohon juga, seorang istri harus taat kepada suamimu. Dan juga suami harus bijaksana untuk semua persoalan hidup. Jaga istrimu dengan baik dan anak-anakmu. Saya mohon mulai malam ini, renungkan! Saya berharap, saya berdoa untuk kalian yang sedang tidak damai sebagai suami istri, supaya kalian dipulihkan dan kembali saling mengasihi dan mencintai sebagai seorang suami dan istri dan mau juga bersama anak-anak. Renungkan apa yang kalian dengar yang saya sampaikan saat ini.

 

Dan anak-anak remaja, saya minta kepada kalian, mulailah kalian bersatu kepada kedua orangtuamu. Pulihkan kembali, damai kembali kepada orangtuamu. Tolong! Itu sangat penting! Jangan sampai kalian akan mengalami kesulitan sendiri, karena kalian tidak menghormati kedua orangtuamu. Itu, saya berharap kepada anak-anak remaja maupun kepada ibu-ibu, bapak-bapak yang mungkin masih sakit hati dengan orangtuanya, mulai beramai.

 

Tidak ada sakit-sakit hati. Tidak ada itu. Ada damai, sukacita dalam kehidupan saya dan anda, supaya rakhmat kasih dan cinta Tuhan itu bersatu dalam kehidupan kita sampai kita dipanggil dalam kedamaian. Amin.

 

 

 

 

Pesan Tuhan Yesus

 

Hai, kamu anak-anakKu semua, dengarkanlah AKU dengan baik. AKU sudah datang di antara kamu. Janji-KU KU-tepati. AKU menyertai kamu. Kamu tidak sendiri di dalam dunia ini.

 

Dekatkanlah dirimu kepada-KU dan setialah kepada-KU. Jagalah dirimu dengan baik dan datanglah kepada-KU sepenuhnya, AKU menunggumu di surga.

 

AKU ingin kamu semua saling melayani, saling mengasihi antara satu dengan yang lain, supaya engkau mendapatkan berkat daripada-KU.

 

Melayani, itulah tujuan hidupmu. Saling melayani, supaya AKU dimuliakan dalam kehidupanmu dimanapun engkau berada.

 

Renungkanlah apa yang Ku-katakan ini kepadamu!

 

Tidak lagi kamu mendua hati bersama dunia. Tidak lagi! Tetapi terimalah AKU sepenuhnya dalam kehidupanmu. AKU-lah yang memberikan kamu hidup. AKU-lah yang memberikan semuanya untuk kamu dalam kehidupanmu. Tapi apa yang sudah kau berikan kepada-KU?

 

AKU menunggumu di surga. AKU dengan setia menunggumu di surga untuk kamu datang kepada-KU. Hai, anak-KU, saat-saat terakhir ini AKU berkata kepadamu: ”Siapa yang percaya, dia mendapatkannya. Siapa yang menutup hatinya, dia bertambah keras hatinya dan berbuat jahat dalam kehidupannya.”

 

AKU membiarkan itu semua terjadi, karena AKU ingin manusia-manusia : Datanglah kepada-KU, percalah kepada-KU. Hanya AKU yang bisa menyelamatkan pada hari itu tiba. Hanya AKU yang bisa menyelamatkanmu. Inilah perkataan-KU yang benar. Apabila itu semua terjadi, teringatlah kamu bahwa AKU sudah mengatakan ini semua kepadamu.

 

Bangkitlah kamu, berdamailah kamu. Tidak ada lagi permusuhan, kekerasan, kebencian, kejahatan. Tetapi ada damai dalam kehidupanmu. 

 

Damai membawa kebahagiaan. Kebahagiaan itu adalah AKU. Engkau bertemu dengan AKU dalam kebahagiaan. Renungkanlah perkataan-KU ini dan berbuatlah apa yang AKU inginkan dalam kehidupanmu. Sampai bertemu kembali di mana engkau datang kepada-KU. AKU menunggumu di surga.

 

 

Pesan Ibu Maria

 

Salam untuk kamu semua anak-anakKu, selamat malam!

 

Selamat malam, Ibu Maria. jawab umat.

 

Terima kasih.

Selamat malam juga hai, imam-imamKu yang Aku kasihi dan juga putri-putriKu, dan kamu semua yang dipanggil bersatu dengan Allah. Terima kasih untuk kamu semuanya.

 

Terima kasih, bunda Maria, jawab umat.

 

Terima kasih.

 

Anak-anakKu semua yang Aku kasihi, mengertilah kamu, penderitaannya Agnes . Aku, Ibumu sudah mengatakannya. Jauh sebelumnya. Apabila Agnes menderita cukup dalam, itulah mulai saat-saat penderitaan itu akan turun di antara kamu. Agnes sangat menderita dengan nubuat ini, dengan tugas yang diberikan Allah kepada Agnes. Dia dihina, dia dihujat. Cukup menderita oleh sikap-sikap mereka yang menutup hatinya, terutama para imam-imam yang ada di negaramu ini. Sudah sampai dimanakah pengertian tentang iman kepada para imam-imam? Belum

 

Siapapun yang mengimani Allah, dia penuh dengan kasih dan cinta dan melayani. Berbuat baik, lemah lembut dan bijaksana, itulah iman yang tumbuh dalam kehidupan-kehidupan seseorang yang menyerahkan dirinya kepada Allah. Tapi, para imam, mereka kasar. Mereka melakukan apa saja menurut kehendak hati dan pikirannya. Dia, para imam, tidak belajar masa lalu pada waktu Tuhanmu ada di bumi ini. Ini terulang kembali. Seharusnya, ini tidak boleh terjadi kembali, karena Allahmu di surga telah memberikan yang terbaik, yang terindah, khususnya untuk para imam-imam.

 

Apakah mereka sudah melakukan dan mengerjakan dengan sempurna? Tidak. Masih banyak yang ditinggalkannya. Itulah para imam di seluruh bumi. Maka, Aku, Ibumu datang ke bumi ini. Aku mengunjungi anak-anakKu di seluruh bumi ini, khususnya kamu di negaramu ini untuk mengingatkan kembali kasih Allah. Keselamatan sudah ada di antara manusia, tapi manusia memilih dunia ini. Dunia menyesatkan banyak manusia.

 

Jangan dikatakan mereka-mereka tidak mengenal Allah. Kebenaran ini sudah ada bersama manusia sampai saat ini dan seterusnya sampai Allah datang kembali ke bumi ini untuk menghakimi manusia–manusia yang ada di bumi ini.

 

Anak-anakKu semuanya, inilah Aku, Ibumu Maria bersama Agnes. Jangan dikatakan bahwa Agnes sesat! Tidak!

Di manakah keberanian mereka yang mengatakan sesat?

Apakah mereka sanggup untuk mengenyahkan Kebenaran ini bersama Agnes? Tidak!

Percayalah! Allah memulainya Allah akan menyelesaikan semuanya.

 

Hai, anak-anakKu, bangkitlah kamu, berbuatlah baik, saling mengasihi di antara satu dengan yang lain. Bawalah damai anakKu. Damai dalam hidupmu bersama Allah, damai hidupmu dalam keluargamu. Damai hidupmu bersama saudara-saudaramu. Inilah yang menguatkan kamu semuanya di saat-saat terakhir ini. Anak-anakKu, lihat! Aku, Ibumu mengatakan kesulitan, kepedihan, bencana, apa saja silih berganti, sudah dimulai anakKu. Itulah tanda. Tanda diberikan kepada dunia ini. Siapakah bisa menghindar dari tanda itu? Tidak! Yang percaya , dia bahagia. Yang tidak percaya, dia akan mati sia-sia.

 

Anak-anakKu, apakah kamu mau hidup baik, setia kepada Allahmu di surga? Dan menerima firmanNYA yang hidup masuk dalam kehidupanmu? Mulailah anakKu, rajin-rajinlah kamu membaca kitab suci. Di situ kamu akan menemukan kasih Allah yang cukup dalam, yang diberikan kepada kamu yang telah kau imani sampai saat ini. Berdoa dalam keluargamu, membaca kitab suci, itulah anakKu, karena pemurnian sudah diambang pintu. Hanya Allah-lah yang tahu kapankah pintu itu akan dibuka, sehingga kuasa Allah menaungi di seluruh bumi ini untuk memurnikan dunia ini.

 

Jangan lagi kamu tidak percaya. Jangan lagi! Aku ingin kamu semua seperti Aku , Ibumu melayani… melayani … 

Jangan kamu diam. Jangan kamu diam, anakKu. Di mana kamu diam, disitu kamu bertambah tidak mengerti tentang nubuat ini yang Aku sampaikan kepadamu. Aku berdoa dari surga supaya kesulitan yang kamu hadapi, kamu baik-baik semuanya. Dan para imam, khususnya Isak Doera, Alexius, jangan kau mundur dengan segala persoalan yang kau hadapi. Teruslah, teruslah lakukan supaya engkau sampai kepada tujuanmu dengan nubuat ini.

 

Salamku untuk Heribertus. Segeralah dia menyelesaikannya secara dunia. Katakan: Aku, Ibunya di surga berdoa untuknya, supaya dia bersatu dengan kamu di negara ini untuk melayani dan untuk menyambut kuasa Allah hadir di negaramu ini.

Seperti Thomas, Aku ingin Thomas kembali seutuhnya sebagai seorang imam untuk menyelamatkan anak-anakKu di kotamu, di tempatmu. Semua persoalan itu selesai. Engkau akan bekerja kembali melayani untuk anak-anakKu di tempat engkau yang sebenarnya. Aku ingin Thomas kembali. Jangan ditunda kembali keinginanmu mengikuti dunia, tapi kembalilah secara rohani, karena apa yang kamu cari itu tidak menyelamatkan. Itu tidak menyelesaikan dalam kehidupan. Hanya rohanimu sebagai seorang imam, engkau terselamatkan dari perjalanan ini. Kembalilah Thomas, anakKu.

Jujurlah kepada dirimu dalam perjalananmu ini sebagai seorang imam.

 

Dan Aku, Ibumu tidak menyatakan apa-apa kepada Lukas. Biarlah dia menanam, dia menuai apa yang dia tuai. Dia akan menerima buah-buah yang dia tanam dalam kehidupannya. Aku tidak berpesan apa-apa kepadanya. Biarlah semua terjadi apa yang menjadi pikirannya, menjadi perasaannya, hatinya, terjadilah itu dalam kehidupannya. Aku berdoa untuk dia.

 

Dan kamu yang bersama Agnes, sekarang kau tahu Agnes sudah mulai menerima …. menerima kepedihan-kepedihan yang datang dari dunia. Aku ingin kamu bekerja sama bersama Agnes. Jangan kau tinggalkan dia dalam penderitaannya. Sehati-sejiwalah kamu bersama Agnes. Dalam suka dan duka, dalam penderitaan apapun bukan Agnes sendiri, tetapi bersamamu. Itulah sehati sejiwa dalam perjalanan ini bersama Aku, Ibumu dalam kelompok ini. Bantu Agnes supaya dia dapat bekerja dengan baik. Tapi, tanpa kamu dia kuat, dikuatkan oleh Allah dan Aku, Ibunya yang selalu menyertainya dalam perjalanannya di mana dia melayani anak-anakKu. Surga berdoa untuk Agnes. Inilah diberikan untuk Agnes sebagai penutup dari semua nubuat itu, (ini) telah diberikan kepada Agnes. Apakah kamu mengerti? Terima kasih.

 

Mengerti, Ibu.  jawab umat.

 

Terima kasih.

 

Kalau kamu mengerti, tolong rubahlah hidupmu. Mulai bangkit ! Lakukan yang terbaik, yang terindah dalam kehidupanmu, supaya pelayanan ini bersama Aku, Ibumu, bersama Agnes bersukacita, bahagia untuk menyambut nubuat yang akan turun ke bumi ini. Sebentar lagi kamu akan mengalami dengan serius.

 

Inilah , Aku , Ibumu dari surga menyapa kamu melalui Agnes. Inilah kuasa Allah bersatu dengan Agnes. Kehidupannya diambil, supaya bisa bekerja sama saat-saat terakhir ini.

Tidak! Aku tidak masuk dalam kehidupan Agnes. Aku ada di surga. Ini kuasa Allah mengantarkan isi hatiKu melalui Agnes, karena Allah bersaksi memakai kesaksian itu melalui manusia yang diciptakanNYA, yang percaya kepadaNYA.

Bukan dengan benda-benda mati atau dengan pohon-pohon atau segala yang ada di bumi ini. Tidak! Allah bekerja sama dengan manusia.

Jadi, apa yang terjadi apabila engkau melihat dan mendengar benda-benda mati itu menjadi kesaksian, itu datang dari si jahat yang datang dari dunia ini. Karena iblis tidak bisa memakai manusia untuk menyampaikan kebenaran, kebaikan, dan keselamatan.

Tapi, iblis bisa menghancurkan manusia. Yang percaya, dia tidak sampai masuk dalam pencobaan yang datang dari dunia ini. Sampai di sini kamu mengerti?

 

Mengerti, Ibu. jawab umat.

 

 

Baik. Kalau kamu mengerti, renungkan! Renungkan bersama Agnes! Agnes juga berjuang bersama kamu, seperti kamu. Kamu pikir dia tenang-tenang? Tidak! Dia selalu menangis, takut jatuh dalam dosa. Kalau sudah jatuh dalam dosa, dia takut kebenaran ini tidak sampai kepada tujuan. Dia lebih sulit, lebih menderita dari kamu untuk menjaga nubuat ini dengan dia menyerahkan dirinya kepada Allah. Agnes, anak ini diberikan kepada kamu supaya kamu mendengarkan isi hati dari surga. Tuhanmu dan Aku, Ibumu yang mencintai kamu semuanya. Terima kasih untuk kamu semuanya.

 

Terima kasih, Ibu.  Jawab umat.

 

Baik! Alexius, tenangkan hatimu. Percaya! Percaya artinya sempurnalah imanmu yang kau berikan, yang kau terima dari Allah. Jangan khawatir! Apapun yang kau hadapi, ataupun keadaan ibumu, semua akan menjadi baik. (Ibu Romo Alexius baru dioperasi pagi harinya, red)

Terima kasih untuk kamu semuanya .

Hanya sampai di sini dan jangan kuatir , Agnes sedang mengalami, tapi ini yang terbaik, yang terindah. Tuhanmu bisa bertemu di mana-mana. Tapi itu yang terbaik, langkah yang terindah , yang diberikan Agnes kepadamu.

Itu yang terindah. Itu bisa terjadi kalau itu juga dipertahankan oleh Agnes. Tapi, kasihan nanti kamu tidak kuat menghadapi. Agnes kuat, tapi kamu tidak kuat menghadapinya. (mengenai pemakaian tempat doa hati Ibu yang bahagia di Cimahi, red)

 

Tapi Aku, Ibumu dari surga mengatakan, teruskanlah rencanamu ini.

Teruskan kamu bertemu dan sampaikan kebenaran ini kepada anak-anakKu di kotamu ini.

Ini! ini kota maksiat. Maksiat! Kota banyak orang pendosa. Inilah tempatnya.

Tapi tempat ini juga akan dimurnikan dan kamu siap menerimanya dengan baik , dengan tenang, dengan iman, dengan sukacita, damai dalam keluargamu melayani di manapun engkau berada.

 

Inilah, Aku menyampaikan kepada kamu semuanya.

Terima kasih untuk kamu semuanya dan juga kamu para imam, puteri-puteriKu semuanya, kuatkan hatimu, dekatkan dirimu dan berdoa. Percaya engkau tidak sendiri dalam perjalananmu. Pasti terindahlah! Siapapun yang setia dalam panggilannya, itulah terindah dalam perjalanannya.

 

Semua kamu yang dipanggil, teruslah berjuang, dekatkan dirimu pada Tuhan dan Aku Ibumu dari surga mendoakan kamu semuanya. Selesai ataupun tidak selesai kamu menjadi seorang imam. Itu janjiKu! Allah akan berkati kamu melalui imammu yang setia bersamamu. Terima kasih anak-anakKu semuanya.

 

Terima kasih, ibu. jawab umat

 

Selamat bertemu kembali. Sampai ketemu kembali. Mari kita satu dalam doa.

Kita datang kepada Allah, kita masuk dalam kepasrahan seperti Aku Ibumu menyerahkan diri kepada Allah. Hanya rencanaNYA saja terjadi dalam kehidupanKu dan kehidupanmu. Itulah yang kuajarkan kepada kamu semua dalam kelompok ini.

 

YA ALLAH YANG MAHAKUASA

PADA SAAT INI JUGA JIWAKU KUSERAHKAN KEPADAMU

KARENA ENGKAU YANG MEMPUNYAI BUMI INI

DAN AKU CIPTAANMU (diulangi 3X) Amin

 

Hai, Alexius bersama Agnes dan kamu semuanya yang bersama Agnes, pergi melayani. Pergilah anak-anakKu! Jangan menunda-menunda, karena waktunya cukup dekat bagi kamu semuanya, supaya anak-anakKu juga di sana boleh mengalami tanda kasih Tuhan, tanda kasih Aku, Ibunya yang selalu mendoakan mereka semua dari surga.

Terima kasih, selamat melayani anak-anakKu semuanya. Selamat malam. 

 

Selamat malam Ibu, jawab umat.