Doa Bersama Kelompok Pelayanan Kasih Dari Ibu Yang
Bahagia
Doa Di Keluarga Lawira, Singkawang, 23 Juni 2007
Pengantar Ibu
Agnes
Saudara-saudaraku,
para suster yang dikasihi Tuhan dan Ibu Maria, selamat datang dan bertemu
dengan kami. Sebenarnya kami datang ke sini hanya transit mau refreshing
sedikit saja. Kami mau berangkat ke Kuching tetapi tidak menutupi kemungkinan
untuk melayani; saya mau, kapan saja diminta untuk melayani, saya siap
untuk melayani.
Bagi
saudara-saudaraku yang di sini, ada yang sudah pernah berdoa bersama saya?
Sebagian. Yang belum siapa? Termasuk romo ya?
Baik kami
memperkenalkan diri. Nama ini sebenarnya bukan nama saya atau anda. Kelompok
ini adalah nama Ibu Maria sendiri, namanya Kelompok Pelayanan Kasih dari, nah
kata dari Ibu Maria yang sudah hadir di Indonesia.( yaitu Ibu yang bahagia ).
Kira-kira kehadiran Ibu Maria di Indonesia tahun 1995. Tetapi sebelum itu saya
diproses selama 24 tahun, baru saya menerima tugas ini dengan baik. Saya mau
sedikit menceritakan dari mana saya? Saya dari dunia ibu-ibu. Dulu saya belum
mengenal Yesus ya. Lingkungan saya, keturunan saya adalah orang dunia, muslim
ya. Jadi panggilan saya ini bukan mendadak, panggilan saya sejak dilahirkan
saya dipisahkan dari orang tua. Kalau saya tidak dipisahkan dari orang tua
mungkin saya tidak mengenal Yesus. Karena mengenal Yesus itu awal mulanya dari
bapak (suami). Dia ABRI. Dia beragama Katolik tetapi untuk menjadikan saya
menjadi anak Tuhan bukan karena saya cinta kepada bapak, jauh….. Saya orang
fanatik, keluarga fanatik dan saya guru ngaji, mengajar. Jadi tidak terpikir
oleh saya, saya mau menjadi anak Tuhan. Kelahiran saya itu tahu 1946. Kira-kira
umur saya sudah berapa ibu-ibu?
61 tahun, jawab
umat.
Sudah tua kan?
Cucu 10. Sebenarnya saya sudah jompo. Sebenarnya menurut ukuran umur saya sudah
masuk rumah jompo ya? Jadi saya sudah tua. Jadi saya dipanggil itu untuk
bertemu dengan Bapak tahun 1969. Tapi Bapak itu mengakui bahwa dia bukan orang
Katolik. Orang tuanya itu moderat, anak-anaknya ada yang beragama Kejawen, ada
yang Protestan, Muslim, dia katolik. Tapi kehendak Allah saya dipertemukan
dengan Bapak. Perkawinan kami juga cukup menghebohkan karena Bapak tidak berani
blak-blakan bahwa dia orang Katolik. Sehingga dia mengurus administrasi semua tanpa
saya. Padahal seharusnya saya/ calon istrinya harus check up apakah calon
istrinya layak atau apakah dia sehat untuk menjadi istri ABRI. Jadi Bapak
banyak berbohong pada saya. Tapi Tuhan pakai ya. Waktu dia datang menyerahkan
surat-surat untuk perkawinan saya, saya tidak diajak bicara. Dia datang
pada saya minta tanda tangan.
“Tanda tangi
ini ya?’, kata Bapak.
“Ini surat
apa?, kata saya
“Jangan dibaca,
tanda tangan saja!”
“Tidak, saya
mau tahu apa ini isinya!”
Terus saya
baca, ternyata data Bapak adalah orang Katolik. Saya pingsan pada waktu itu
karena dia sangat berbohong kepada saya. Jadi saya mau mengawali supaya
saudara-saudara tahu bahwa saya tidak main-main. Saya tidak berharap menjadi
jadi anak Tuhan. Saya cukup iman saya zaman dahulu itu cukup dalam buat saya.
Setelah saya sadar, saya katakan kepadanya. “Kamu berbohong kepada saya. Hari
ini juga putus, tidak ada hubungan lagi dengan kamu. Haram bagi saya untuk
bersatu dengan kamu. Itu hukum kami.”
Tapi kata
Bapak, jangan pikirkan iman tapi pikirkan cinta yang sudah 4 tahun kita
bergaul, masa kita putus karena agama? Jelas agama itu lebih penting buat saya.
Tetapi ada suara mengatakan pada saya: “Lalui saja dengan baik, Aku menyertai
kamu”. Suara siapa sih? Saya cari, tidak ada. Habis itu luluh hati saya tapi
saya punya pegangan cukup kuat, saya bilang sama Bapak: “ Saya mempelajari
dulu, saya bawa dalam doa, bisa tidak saya menerima kamu sepenuhnya dalam hidup
saya. Tunggu 1 bulan baru saya tanda tangan. Ini saya cerita supaya tidak ada
yang berpikir, wah si Agnes itu menerima karunia cukup mendadak 1 minggu, 2
minggu, setahun, tidak! Cukup lama!
Akhirnya saya
katakan , kamu tidak usah menemui saya satu bulan ini. Saya akan berdoa. Benar
saya tahajud dari jam 24 sampai jam 2 pagi selama 1 bulan. Tapi selama proses
kok tidak ada membantu saya menjauhkan dari Bapak ini. Pas hari ke 30, suara
hadir lagi mengatakan demikian. Disitu saya terperanjat, saya tidak mengenal
bahasa itu dan tidak mengenal siapa yang berbicara kepada saya. “ Anakku
yang Aku kasihi, Aku berkata kepadamu, sejak orang tuamu mengandung Aku telah
menyertaimu dalam kehidupanmu.“ Saya berpikir siapa ini. “Saat inilah
Aku mendengarkan doamu. Saat ini juga Aku berkata kepadamu, terimalah dia apa
adanya.” Saya ingin tahu siapa dia? Tetapi tidak ada rasa ketakutan. Kalau
itu iblis pasti aku ketakutan ya. Ada suara tapi tidak berwujud. Akhirnya
benar, saya tidak berkutik.
Kemudian Bapak
datang, bagaimana pendapatmu? “Boleh, sebelum saya tanda tangan saya minta kamu
berjanji kepadaku, jangan kamu ajarkan aku dengan agamamu. Kedua, jangan kamu
bawa aku untuk masuk agamamu. Ketiga, engkau tidak boleh lagi berdoa atau pergi
ke gereja, kamu harus patuh dengan saya. “Ya, kata Bapak, saya siap.”
Bapak memang
benar-benar penipu pada waktu itu ya. “Oke ya Nik, tanda tangan”. Benar aku
tanda tangani. Sudah saya tanda tangan, kira-kira 3 minggu, dia datang lagi
pakai pakaian dinas. Waktu itu dia berpangkat kapten, tahun 1971. Pakai pakaian
dinas, bawa pistol. Terus saya tanya, bawa pistol ke sini mau ngapain? “Nik,
Aku baru lepas piket terus aku langsung ke sini.”
“Mau apa kamu?
“Begini lho
Nik, tapi kamu jangan marah dulu ya. Karena dulu aku udah janji tidak
mengajakmu ini dan ini tapi kali ini tolonglah, kamu mau dampingi aku supaya
aku diberkati di gereja”
“Kamu kan udah
janji sama saya tidak …..
Tapi ini tidak
bisa, hati, pikiran saya. Tapi suara itu datang lagi. “Pergilah Aku
menyertaimu”
Suara siapakah
ini? Tapi saya diam tidak ngomong sama bapak. Ternyata saya mau. Tahu ngak,
saya bawa tas kecil, isi baju ganti 3. Saya dibawa pergi sama Bapak naik motor
pergi ke Katedral. Yang dulu memberkati saya itu Pastor Datubara yang kemudian
menjadi Uskup Medan. Rupanya di sana sudah siap. Pastor Datubara dan para saksi
sudah siap. Masuk gereja, saya tidak berdaya.
“Sudah silahkan
masuk, saya sudah menunggu kalian berdua.” Habis itu silahkan ke Altar.
”Aku mau
diapakan?”
“Sudah Nik,
kamu ikut saja”, kata Bapak.
Saya tidak
berdaya. Kalau saya pribadi tanpa ada kuasa dibalik itu, mungkin saya berontak,
saya hancurkan si Bapak penipu itu ya. Tapi pastor Datubara bilang, silahkan..!
Terus kami berlutut di Altar dengan pakaian PDL dengan pistol dan Pastor juga
tidak menyuruh lepaskan pistol waktu menghadap Tuhan. Saya bingung banget pada
waktu itu. Saya diam saja. Diberkatilah kami dan mendapat dispensasi dari
Pastor Datubara. Sudah selesai diberkati oleh beliau, dia mengatakan sambil
saya dipeluk. “Saya berdoa suatu saat kamu akan mengikuti suamimu”
Saya katakan :
“Tidak, saya sudah punya iman”
Ini awal
pertama, saya berdoa untuk memutuskan Bapak untuk menjadi suami saya, Tuhan
berkati. Kedua, saya diberkati di Gereja di depan Altar dengan muslim yang
tidak mengerti apa-apa. Bayangkan itu! Sebenarnya perempuan ditanya dulu oleh
Pastor, kamu mau tidak menikah dengan Tarcisius Sawarno? Tapi tidak, langsung
berlutut. Itu Uskup Datubara. Ini saya bersaksi, sungguh-sungguh saya tidak
berbohong. Habis itu saya dibawa oleh Bapak. Berarti saya kawin lari ya, atau
lari kawin? Saya kabur dari rumah. Dari gereja saya langsung dibawa oleh Bapak
dengan baju 3 biji di tas kecil itu. Gila tidak? Tuhan itu mau apa? Ditunjukkan
semua itu mau apa? Ditunjukkan kuasa-Nya yang begitu penuh menarik saya, mau
apa? Kadang saya berpikir, sekarang saya baru mengerti, oh maksud Tuhan itu
begini. Waktu kecil saya dibiarkan Tuhan. Saya hidup beragama, menghayati dan
segala macam, dibiarkan Tuhan untuk pegangan saya. Tuhan tidak tarik saya
begitu saja. Nah, saya kawin tahun 1971. Setelah menikah saya pergi ke
Sidikalang. Boleh ngak saya cerita?
Boleh, jawab
umat.
Supaya kalian
tahu Ibu Agnes itu darimana sih asalnya bisanya dia begitu. Saya kasih tahu,
saya tidak berbohong. Ini saya betul-betul nyata yang diberikan Tuhan pada
saya. Habis menikah 1 bulan, itu orang tua saya tidak mencari, tidak mau tahu
lagi dimana. Dibiarkan saja, pokoknya saya dilepas begitu saja. Lalu bapak
pergi sekolah SUSLAPA di Bandung. Saya ditinggal dan dititipkan kepada komandan
Batalyonnya ya. Terus istri Komandan hamil, saya juga hamil. Jadi kalau saya diajak
nonton saya mau bersama istrinya yang juga lagi hamil. Jadi saya digiring oleh
komandan sampai waktu itu pas mau melahirkan…..wah melahirkan ini cukup parah
ya..supaya anda tahu, Tuhan juga ikut serta didalam kelahiran anak saya. Itu
anak sungsang. Dokter mengatakan harus dibawa ke Medan. Sidikalang ke Medan itu
4-5 jam, jadi anak saya bisa mati di jalan. Tapi waktu itu yang
tandatangan Komandannya karena bapak sekolah. Para dokter masih ngobrol
bagaimana ini, kalau dibawa, kalau tidak anak, ya Ibu yang mati. Langsung saya
bilang: “Ya Tuhan saya mohon ampun padaMu, aku telah berbuat dosa. Aku sekarang
ini mau Kau hukum dengan cara ini. Ampuni saya, apabila aku Kau ambil aku minta
ampun supaya aku selamat dari penderitaan.”
“AnakKu yang
Aku kasihi, saat ini juga anakmu akan lahir dengan selamat.”
Lalu perut
langsung bereaksi. “Dok, ini mau lahir” Padahal tadi diam saja. Air ketubannya
sudah kering, jadi anak itu bisa mati didalam, mau di caesar..bagaimana??.
“Dok ini anak
kok berputar-putar? Benar Ibu, kata dokter. Terus dokter membantu kelahiran
anak saya walaupun dengan sungsang.
“Saat ini juga
anakmu lahir dengan selamat” Ini suara
siapa saudaraku? Aku tidak mengerti itu.
Jadi sejak saya
kecil, diambil oleh tante, diambil dari lingkungan muslim yang fanatik. Kedua
ini saya dibiarkan belajar tentang hukum-hukum mereka. Ketiga, saya ketemu
dengan Bapak orang Katolik. Keempat, waktu bapak minta saya, saya juga berdoa.
Kelima, waktu anak mau lahir. Sudah mau mati saya, Tuhan menolong. Dengan
bahasa Arab saya berdoa ya. Tapi ingat ya Tuhan itu tidak milik mereka. Yang
percaya mereka memiliki Tuhannya tetapi mereka yang tidak percaya hanya sebagai
ciptaan-Nya. Tetapi kita sebagai ciptaan juga sebagai anak yang dikasihi.
Keenam, bapak kan belum pulang, saya berdoa tahajud tengah malam. Itu
kesenangan saya. Saya tahajud, tahajud, ada suara lagi. Saya bersaksi ya romo,
Tuhan mendengarkan apa yang menjadi kesaksian saya. Suara itu datang lagi.
Saya di kamar sendirian, disamping rumah ada anak-anak Akabri yang masih
bunjangan ada 6 orang. Setelah itu datang lagi suaranya, “Anakku yang Aku
kasihi, saat ini Aku meminta kepadamu”. Hah, siapakah yang berbicara ini
ya? Tapi Dia tidak mau jawab siapa dan siapa. “ Besok anakmu serahkan
kepada-Ku.!” Wah anakku mau mati ya? Akhirnya saya redam dengan doa
tahajud, maksudnya mau mengusir roh jahat yang mau menganggu saya, tapi tidak
bisa. Tidak ada kuasa. Waktu itu berapa kali saya bengong. Tidak ada daya untuk
menolak. Besok paginya jam 5 pagi saya ngedor pintu anak bujangan itu. Eh yang
keluar kebetulan yang Katolik bukan yang muslim. Kenapa itu ada yang Katolik
keluar? Kalau yang muslim, tidak jadi itu semua.
“Ada apa mbak?”
“Dik, tadi
malam itu ada suara di kamar, saya sedang tahajud.
“Terus suara
itu ngomong apa mbak?
“AnakKu yang
Aku kasihi, besok serahkan anakmu kepadaKu!”
“Mbak, mas kan
seiman sama saya. Mas kan orang Katolik. Kalau keyakinan kami, itu kuasa Tuhan
menyapa mbak.
“Terus gimana
Dik?”
“Anak mbak
harus dibaptis.”
“Dibaptis itu
diapakan?”
“Dipersembahkan
kepada Allah menjadi anak Allah.”
Saya tidak bisa
berkutik lagi. “Ya sudah, tapi ingat Aku tidak mau ke gereja. Kalau Pasturmu
mau datang ke rumahku, kuserahkan anakku. Lalu dia pergi minta izin kepada
komandan kompinya bahwa dia mau ke Gereja. Ternyata romonya mau. Romonya satu
ordo dengan Mgr. Datu Bara. Dia mau. Saya jam 2 datang ke rumahmu untuk
membaptis anakmu. Gila tidak? Aku masih muslim, Bapak ada di Bandung, kok bisa
melakukan hal itu? Tidak mungkin kan? Tidak mungkin kalau tidak kuasa Allah
yang bekerja, Pasturnya tidak mau membaptis itu anak. Ibunya harus ditolong
dulu dan kedua suaminya harus pulang dulu, tapi ini tidak, jam 2 aku akan
datang kata Pasturnya. Kemudian ketok pintu, tapi saya sudah lapor istri
Komandan. “Eh Kak, itu anakku katanya mau dibaptis.”
“Eh, gila kau!”
“Kenapa aku
gila?”
“Kamu kan orang
muslim?”
“Iya, tidak
tahu Kak, kenapa ini terjadi tapi saya tidak berkutik. Sudahlah Kakak datang
aja ya. Saya tidak mau mendampingi, kakak saja mendampingi. Lalu,
datanglah Pasturnya.
“Mana Ibunya?”
“Saya.” Terus
cerita-cerita.
“Apakah benar
anakmu mau dibaptis?”
“Ya silahkan
saja. Saya tidak tahu, saya tidak mengerti.
“Kamu tidak
mengerti?”
“Ya, saya kan
muslim.”
Tapi Pasturnya
mau. “Sekarang anakmu segera saya baptis.” Dia sudah membawa Ibu permandian.
Bertiga beliau datang ke rumah. Terus istri Komandan mendampingi. Aku di meja
makan melihat apa yang dikerjakan orang itu. Saya lihati saja.
“Sebelum saya
membaptis saya kasih tahu sama kamu, anakmu akan kuberi nama Thomas Aquinas.
“Eh, jangan
sembarangan kasih nama karena Bapaknya belum pulang. Biar Bapaknya kasih nama.
Kalau mau dibaptis, baptis saja.
“Oh tidak, ini
nama baptisan.”
Aku bengong
lagi. “Ya kamu bersedia?”
“Ya”. Maka
dibaptislah anak saya di rumah dengan keadaan saya muslim didampingi oleh ibu
Komandan dan 2 orang, satu saksi dan satu lagi ibu permandian. Nama anak saya
Thomas Aquinas. Itu anak pertama saya kelahiran tahun 1972.
Ke delapan,
saya mulai tahajud lagi. Memang hobiku tahajud ya tapi tidak mengerti arti
tahajud bagaimana, aku tidak mengerti. Itu ajaran mereka dulu saya imani. Terus
suara itu datang lagi. Maka berbahagialah kita disebut anakNya yang
dikasihi. Kata-kata itu sangat berkesan dalam hidup saya. “AnakKu yang Aku
kasihi, malam ini aku bertanya kepadamu, maukah engkau Kuselamatkan dalam
nama-Ku? “
“Selamat? Aku
sudah punya agama kok? Apa yang selamat?” Siapa sih ini kok berwibawa banget
tapi aku tidak takut. Aku diam.
“Tidak bisa,
saya orang muslim.
“Sekali lagi
Aku bertanya kepadamu, maukah engkau Kuselamatkan dalam nama-Ku?”
“Tidak, tidak
mau!”
Tanya lagi: “AnakKu
yang Aku kasihi, Aku datang dan menyapamu pada malam ini, bertanya kepadamu,
maukah engkau Kuselamatkan dalam nama-Ku?”
“Kalau
Kukatakan mau, bagaimana caranya?”
Kami berdialog
tapi tidak ada wujud.
“Kalau aku mau,
bagaimana caranya menyelamatkan aku.
“Sekarang
pergilah, ambillah Kitab Sucimu.”
“Ada 2, punya
saya dan punya suamiku.” Saya ngeyel karena saya punya agama dan saya tidak
mengerti siapa yang menyapa saya tapi Aku tidak takut.
“Ambil punya suamimu.”
Selama ini saya
tidak mau, dan tidak suka memegang kitab Sucinya Bapak. Haram bagiku. Dan saya
setiap malam menagis. Orang muslim kan mengatakan, wanita kawin dengan seorang
pria tidak seiman hukumnya berzinah dan haram tetapi lelaki yang muslim kawin
dengan tidak seiman halal bagimu. Kurang ajar ajaran itu ya. Kalau perempuan
haram, kalau laki-laki tidak, itu kan tidak benar ajaran itu kan tapi itu
sekarang kalau dulu saya tidak mengerti. Saya menangis, haram saya,
aduh…menangis terus.. akhirnya.
“Bukalah Kitab
Sucimu”
“Ini Kitab
Suciku yang ini.”
“Sekarang Aku
mengatakan bukalah Kitab Sucimu.”
Lalu saya buka,
begitu saya buka, pikiran saya, hati saya bergelora, bersuka cita. Lho aku kena
apa? Aku tidak pernah baca al quran seperti ini. Ini kok begini. Luar biasa.
Kayaknya roh saya itu melonjak-lonjak kegirangan. Terus Aku baca, baca.. Mulai
saat itu saya diam-diam belajar tanpa Bapak. Kalau Bapak pergi ke kantor, saya
tutup pintu, saya di kamar mulai baca. Pencerahan… lama-lama saya mengerti. Habis
itu anak-anak satu persatu saya baptis. Pasturnya mau. Anak kedua dibaptis,
Pastur mau. Bukan bapak yang pergi menghadap Pastur tapi saya yang muslim ini,
yang fanatik ini. Saya menghadap Pastur untuk membaptiskan anak. Sampai anak ke
5 baru saya menyerahkan diri kepada seorang romo. Pertama romo Belanda menolak
saya.
“Kamu harus
belajar, saya tidak mau iman ini kamu permainkan. Aku tahu kamu dari sebrang
dan fanatik. Kamu harus belajar dulu supaya kau mengenal Tuhan Yesus yang akan
kau imani.”
“Pastur saya
sudah 8 tahun saya belajar sendiri tanpa ada yang mengajarkan. Bapak juga saya
tidak beritahu, saya sudah belajar, dan saya punya kerinduan ingin bersatu
dengan Dia.”
“Tidak bisa!”
Ya sudah batal.
Tidak usah dipermandikan, saya batal saja. Sudah 8 tahun, saya cape suruh
belajar lagi setahun. Cape saya, pastur. Sudahlah. Kemudian dia pindah. Datang
lagi Pastur, baru, saya menghadap. Pastur itu bijaksana banget. Kenapa kamu mau
dibaptis?
Tapi aku tidak
cerita. “Saya belajar mencintai tapi akhirnya saya kok jatuh cinta.“
“Boleh tapi
saya seleksi dulu kamu, sejauhmana kamu jatuh cinta pada Yesus, kata Pastur
itu.
Terus dia kasih
persoalan-persoalan yang luar biasa, saya jawab enteng saja.
“Ah sampai
kesitu kah kamu belajar?
“Ya sudah kamu
dibaptis.”
Saya dibaptis
tahuh 1978, waktu itu bapak masih dinas di Jakarta. Saya sudah lapor, tapi saya
pergi sendiri, terus bapak datang. “Ini ada apa kok rumah bersih sekali dan ada
makanan?”
“Aku suruh kamu
pulang karena nanti saya mau dibaptis.”
“Hah kamu mau
dibaptis?”
Bengong Bapak.
“Siapa yang ngajari?”
“Tidak ada yang
ngajarin, kata saya. Saya bilang, saya rela dan bersedia dibaptis karena saya
mau diselamatkan dari dunia ini. Terus saya dibaptis.
Setelah saya
dibaptis, mulai saya berdoa, belajar untuk menyebutkan Tuhan Yesus. Sebentar
bisa, sebentar tidak. Selama satu tahun saya tidak pernah berkomunikasi dengan
Tuhan, saya dibiarkan saja. Saya kan ngamuk. Ditinggalkan Tuhan, saya ngamuk.
“Sekarang saya
sudah dibaptis. Sekarang saya sudah mengikuti engkau, sekarang saya dibiarkan,
sekarang saya mau apa?
“Hai Isa
Almasih, kalau Engkau tidak bisa menunjukkan siapa engkau yang sebenarnya aku
besok kembali ke muslim. Kutantang Tuhan Yesus ya. Kutantang.” Kalau Kau tidak
bisa menyatakan dirimu yang sebenarnya, aku besok masuk muslim lagi, ingat ya!
Ini benar ya
saudara-saudara. Ini tidak main-main, saya serius. Karena apa? Saya menantang
Tuhan karena saya mencari Dia sudah setengah mati, sekian lama tidak pernah
hadir lagi, keakraban seperti semula tapi sebenarnya itu tidak boleh ya. Kan
saya baru awam sekali, kan Tuhan sendiri yang mengajak saya mengikuti Dia.
Bukan keinginan saya belajar karena saya tertarik dengan seorang romo, suster,
tidak! Tidak ada pikiran saya menjadi orang Kristen. Saya ngamuk. “Hai Isa Almasih,
kalau Engkau tidak bisa menunjukan siapa Engkau yang sebenarnya, besok saya
masuk muslim.”
Apa yang
terjadi… ini saya lagi berdoa dengan posisi doa dan anak-anak lagi tidur dan
bapak tidak ada. Anak lima tidur, saya sedang doa. Anak yang bungsu baru 6
bulan. Itu tahun 1998. Akhirnya apa yang terjadi?
Ada yang
membawa saya keluar dari kamar, keluar dari rumah dan pintu rumah yang terbuat
dari kaca, saya bisa terobos. Lho kaca kok tidak pecah? Siapa ya yang membawa
saya?
Tapi saya
dibawa. Tapi diperjalanan itu tidak ada jawaban, siapa yang membawa saya ini.
saya lupa permintaan saya dalam doa tadi yaitu tunjukkan siapa Engkau yang
sebenarnya.
Akhirnya saya
melalui suatu tempat. Tempat itu indah sekali. Itu rumput empuk sekali, wangi,
terang dan bunga aneka ragam. Wah luar biasa, pohon-pohon indah sekali.
Matahari, bulan, bintang tidak ada, itu sinar darimana itu? Nah itulah kuasa
Allah menyinari dalam kebahagiaan itu sendiri. Saya tidak berani mengatakan
tempat itu apa.
Begitu saya
sampai saya terhenyak duduk, kecapean. Yang membawa saya tidak ada lagi. Saya
duduk dibawah pohon. Lho saya kok ada di sini ya ampun, gimana anak 5 itu saya
tidak punya pembantu. Anak-anak itu bagaimana siapa yang urus? Besok sekolah
TK. Ini pikiran sudah berkecamuk. Ada yang kelas satu SD, ada yang SMP ada yang
bayi. Ini mau diapakan? Aku mau pulang tidak tahu jalan. Aku pasrah duduk saja.
Sambil termenung bagaimana jalan keluar itu tidak ada jalan, bagaimana saya mau
pulang. Ini otak masih jalan, karena saya kan belum tidur, posisi berdoa.
Habis itu saya
mendengar langkah dari kanan. Tek..tek…tek. Matilah aku, itu binatang buas. Hai
Ibu-Bapak, saya jago manjat ya. Saya pintar panjat pohon kelapa. Waktu kecil
kalau saya dimarahi tante saya pergi naik pohon dan berdoa. Lebih cepat, lebih
tinggi pasti doanya cepat terkabul. Saya tomboy. Saya suka panjat-panjat pohon.
Saya lihat
pohon pendek, kalau saya naik, kira-kira pohon itu cuma 2 meter kalau saya naik
pasti tangannya bisa menjangkau saya. Matilah aku! Sadahlah pasrah. Aku tunduk.
Saya tunduk pasrah, lalu langkah itu berhenti didepan saya. Saya buka mata.
Hah, kaki..? Saya berpikir….apa kata Yohanes Pembaptis? Untuk melepaskan
kasutnya saja saya tidak pantas. Apakah Dia? Ini masih bertanya,
ini apakah Dia? Pakai kasut berjubah putih.
Saya ingat, untuk
membuka kasutnya saja saya tidak layak, apakah ini DIA? Tapi tidak ada
dorongan kuasa Tuhan, ini AKU. Begitu saya lihat, tahu tidak romo? Saya tidak
mengatakan ini Tuhan tapi nanti saya katakan Tuhan. Hampir 2 meter tingginya.
Tinggi besar pakai jubah, gondrong, brewok, tangannya berbulu dan tangannya
besar. Aduh saya pernah lihat dimana ini, wajah ini? Tapi tidak ada dorongan
untuk mengerti. Aku bengong berpikir. Kayaknya aku pernah lihat ya kalau tidak
di gereja ini. Terus ada suara mengatakan, doamu sudah terkabul tapi saya tidak
mengerti.
Saya diangkat.
Begitu saya diangkat, saya dituntun, barulah saya mengalami. Saya dibalik lagi
seperti nonton kembali masa lalu. Saya ikut dengan rombongan pada waktu itu
dimana Tuhan Yesus dalam perjalanan memanggul salib. Hah..hah… saya bengong.
Wah ini benar, ini Dia. Tapi aku tidak berdaya, aku cape mengikuti romobongan
sekian banyak, aku cape sekali mengikuti perjalanan Tuhan membawa Salib itu ke
tempat bukit yang agak tinggi ya.
Saya melihat di
situ, ya ampun, itu ada di injil, di kiri kanan ada salib penjahat-penjahat
itu, bertobat. Ini kah Dia? Tapi belum ada dorongan. Begitu sampai di kayu
salib, saya terenyah begitu, seolah-seolah semua sepi. Tuhan menyapa; “AnakKu,
inilah Aku! Kau percaya?”
Saya peluk itu
salib. “Ya Tuhanku dan Allahku, aku mohon ampun saya tidak mengerti. Sekarang
aku sudah mengerti, ini Engkau yang sebenarnya Tuhan. Ampuni.. Terima kasih
Tuhan Engkau telah mengabulkan doaku. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku
mencariMu Tuhan, aku dari dunia ini Engkau selamatkan aku Tuhan. Terima kasih
Tuhan!”
“Baik, sekarang
engkau melihat dan menerima AKU. Tapi setelah kau menerima Aku engkau akan
menderita.”
“Tidak apa-apa
Tuhan, aku menderita juga tidak apa-apa Tuhan karena Engkau sanggup melakukan
apa saja dalam hidup saya.”
“Ya Tuhanku dan
Allahku, ampunilah segala dosaku supaya aku boleh menikmati kasih dan cintaku
dalam Karya Keselamatanmu ini.” Itu yang saya sebutkan waktu memeluk..
Tahu tidak
saudara-saudaraku, ini darah mengalir ke kepala saya tapi salib itu terus saya
dekap. Saya tidak mau meninggalkan Tuhan. Saya tidak mau meninggalkan Engkau
lagi dan aku jangan kau tinggalkan. Aku sudah cape mencari-Mu Tuhan, aku sudah
cape.
Tapi Tuhan
Yesus mengatakan, baiklah anakku, sekarang engkau melihat dan percaya, tapi
setelah kau percaya engkau akan menderita. Sebentar lagi engkau akan melayani
banyak manusia.”
Melayani apa?
aku kan tidak mengerti bahasa itu ya.
“Pulanglah!”
“Aku tidak mau
pulang Tuhan. Itu urus suami dan anak-anakku Tuhan. Inilah yang aku inginkan.
“Tidak anakKu,
pulanglah!”
Begitu berkata
pulanglah, Tuhan Yesus turun dari salib. Apa yang terjadi saudara-saudaraku? Kembali
kita melihat bagaimana Tuhan Yesus naik kesurga.
“Tuhan, jangan
tinggalkan aku Tuhan.”
“Tidak! Aku
tidak pernah meninggalkan engkau dan siapapun yang percaya kepada-Ku tidak
pernah Aku meninggalkan mereka terutama engkau anakKu. Pergilah, buatlah dan
sampaikanlah kebenaran ini. Aku akan menyertaimu dalam kehidupanmu. Jangan takut!
Sekali lagi jangan takut, Aku menyertaimu”.
Aku melihat
Tuhan. Tapi Tuhan hanya memperlihatkan kebangkitan-Nya saja tapi Tuhan tidak
memperlihatkan dimana Tuhan dimakamkan, tidak! Tuhan mau menunjukkan iman kita
yang sebenarnya bahwa semua manusia yang ada di bumi ini tidak mempunyai
keistimewaan. Kita mempunyai keistimewaan oleh Tuhan yang bangkit dari mati dan
kita diselamatkan oleh Tuhan dan dan kita ditunggu di surga. Ini yang perlu
saya sampaikan.
Ini
point-pointnya saja. habis itu apa yang dikatakan Tuhan. “Setelah kau
melihat dan menerima, engkau akan menderita. Benar! Saya lumpuh. Lumpuh
dengan tulang dan kulit setahun setengah. Saya tidak mengurus anak. Bapak
paling seminggu ke kantor, ngurus anak dan saya. Saya tertidur tergeletak.
Habis itu saya dibawa ke dokter ahli satupun tidak menemukan penyakit saya.
Satu profesor doktor mengatakan, tolong bapak, jangan-jangan ibu ini ada yang
memasuki dalam kehidupannya, pergi ke dukunlah! Maka aku dibawa ke dukun oleh
bapak.
Ini terus
terang saya kasih tahu. Ini dicontohkan oleh Tuhan. Jangan sekali-sekali pergi
ke dukun, atau paranormal mencari kesembuhan. Saya dikasih kesaksian. Dibawa
sampai keseluruhan Bandung sampai Jakarta. Satu dukun, paranormal tidak bisa
menyembuhkan saya. Satu yang terakhir dibuktikan oleh Tuhan. Orangnya dari
Makasar. Saya diajak kesana. Asal saya dibawa ke pengobatan saya digendong
bapak, saya tinggal tulang dan kulit, satu setengah tahun lumpuh, saya tidak
makan, tidak apa, saya tergeletak saja. Saya sudah dapat perminyakan berapa
kali dari romo yang membaptis saya, supaya kamu nanti pulang dengan damai.
Terima kasih Tuhan.
Pada waktu itu
setelah saya siuman dari perjalanan rohani bersama Yesus, saya sadar dengan doa
seperti ini, akhirnya saya berkata, terima kasih Tuhan Yesus, Engkau kabulkan
permohonan saya karena Engkau tahu permohonan saya ini bukan menantang, bukan
mencobai Tuhan tapi saya kan ingin tahu siapakah Engkau. Karena saya dari luar
sudah mempunyai iman yang cukup dalam, pasti saya akan menuju satu tempat saya
harus pasti tempat ini baik atau tidak. Engkau tahu Tuhan. Ampuni saya Tuhan
terima kasih. Saya akan setia dalam perjalanan saya. Amin.
Jadi waktu saya
sakit, satu orang Bapak, begitu buka pintu, apa yang terjadi saudara-saudaraku?
Si dukun ini terbanting-banting, muntah-muntah berbuih. “ Panas-panas, suruh
dia pulang! “
Orang ini mau
mengobati kok malah dia yang sekarat. Terus istrinya datang. “Pak, suami saya
kok tidak kuat melihat ibu? Sekarang bawa saja ibu pulang.
Begitu pulang
saya berdoa. Kebetulan di kamar ada salib, saya menengadah, Tuhan Yesus
Allah yang baik, terima kasih Tuhan sekarang saya mau menyerahkan diri saya
seutuhnya kepada-Mu Tuhan. Saya sudah senang bahagia. Saat ini juga kalau Tuhan
mau memanggil saya, saya sudah siap silahkan Tuhan. Tetapi kalau Tuhan masih
memberikan saya hidup berikan saya kesembuhan supaya saya boleh melayani suami
dan anak dan saya boleh beribadah dengan baik. Tolong ya! Apapun yang Kau
berikan itu yang terbaik.
Apa yang
terjadi besoknya? Saudara-saudaraku saya bisa bangun dan berjalan dengan
tergontai-gontai, pegang dinding. Biarkan aku jalan ya… disitulah mujizat Tuhan
dinyatakan kepada saya. Hanya Aku yang bisa menyelesaikan hidupmu. Kita semua
saudara-saudaraku, setialah Anda kepada Tuhan ya, setia! Jangan mendua hati.
Tuhan tidak suka bagi kita yang mendua hati. Jangan kita instan pergi ke dukun,
paranormal untuk mencari kesembuhan atau mencari harta, untuk meramalkan saya
bagaimana dan bagaimana… Tidak!
Saya sudah
dibawa ke dukun-dukun, manusia-manusia yang seperti itu, tidak meyelesaikan
akhirnya Tuhan yang menyelesaikan kehidupan kita. Jadi saya minta, didalam
Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu yang bahagia, dimana Ibu Maria hadir di
Indonesia, dia minta kepada kita supaya kita mulai berbenah diri, kembali dan
berbuat baik sebanyaknya dalam kehidupan kita masing-masing dan melayani ya.
Melayani itu sangat penting dalam kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan. Tanpa
melayani, kita bukan anak Tuhan karena Allahmu sampai saat ini juga melayani.
Aku menyertai kamu sekalian sampai akhir zaman. Karena Tuhan melayani dengan
segala cara-Nya karena Tuhan ingin manusia percaya kepada-Nya tetap setia.
Mulai hari ini
renungkan, apa yang saya perbuat untuk Tuhan, dalam hidup saya, dalam keluarga
saya, suami, istri, anak saya. Ini perlu sekali, kata Ibu Maria. Damailah kamu
anak-anakku, dalam keluargamu supaya Allah dimuliakan. Bagaimana kamu tidak
damai, kamu mengatakan itu Yesus Tuhan, luar biasa. Lho buktinya kamu??? Sikap
kita tidak sesuai dengan apa yang kita katakan. Jadi malam ini saya bersaksi
tidak main-main ya. Untuk apa saya seperti ini ya? Kalau saya ngomong ‘A’ saja,
Tuhan mendengar di surga. Tuhan tahu apa yang kita lakukan dalam kehidupan kita
sehari-hari tahu! Apalagi saya bersaksi seperti ini Tuhan tahu. Kalau saya
berbohong, celakalah aku. Saya datang dari dunia, sekarang saya diselamatkan,
kenapa saya berbuat jahat, membohongi? Untuk apa? Dan dalam tugas saya melayani
juga tidak main-main. Saya pergi meninggalkan keluarga. Saya mendapatkan harta?
Tidak! Tidak! Saya bertambah dalam kehidupan saya dalam kemegahan, tidak! Tidak
saudaraku! Melayani itu tidak mendapatkan imbalan. Ttapi Tuhan berkata, siapa
pun yang bekerja dia akan mendapatkan upahnya. Upah itu terserah Tuhan. Upah
rohani, upah keselamatan. Tapi kita bukan mencari upah ya, bukan! Bukan cari
pahala. Iman orang Kristiani tidak cari pahala. Itu dulu saya mencari pahala.
Semua pahala. Hebat banget pahala itu. Tidak semudah itu! Tidak semudah itu!
Jadi kita
sekarang ini menjadi anak Tuhan, apa sudah saya berbuat untuk Tuhan? Itu kita
renungkan kembali. Tuhan tidak mengatakan, kamu menjadi suci dan kudus, maka
kamu bisa sampai kepadaKu, tidak! Tetapi, Tuhan ingin setialah anakKu.
Kata setia. Dalam kesetiaan itu kita pasti sampai kepada tujuan. Dimana imanmu
akan padam bangkitlah anakKu, Aku akan menguatkanmu, hanya……(kaset
dibalikan).
Di seluruh bumi
sudah dinubuatkan oleh Ibu Maria. Di Fatima, dimana Ibu hadir di seluruh bumi,
Ibu mengatakan itu termasuk di Indonesia. Karena Ibu Maria mengatakan anakku
banyak di Indonesia. Mereka pandai berdoa, pergi ke Gereja, habis dari Gereja
tidak berubah. Tetap saja begitu. Yang marah tetap marah, yang ini tetap
ini dan begitu.
Kalau kita bisa
berdoa, berarti kita wujudkan arti doa itu dalam pelayanan kita dalam keluarga.
Yang penting kata Ibu dalam keluargamu, “damailah anakku”.
Nah ini,
dan jangan sampai di sini, yang punya anak remaja, jangan sampai anak
kita pergi meninggalkan Tuhan. Jangan! Kata Ibu Maria, akan kamu tanggung
dosa itu kalau anakmu pergi berbuat dosa.
Karena yang
pergi meninggalkan Tuhan itulah yang menghujat roh. Meninggalkan
Tuhan itu artinya menghujat roh, tidak diampuni. Tetapi kalau kita nakal-nakal
biasa, kita masih terdiri dari daging, kita tidak sempurna, pernah marah, pernah
ini… tapi kan kita mau menjadi anak yang baik dan kita mau diproses menjadi
anak yang baik. Untuk menjadi anak yang baik saja kita berjuang.
Dan tidak bisa
kita mengatakan aku sudah berbuat ini, berbuat ini, tidak usah karena kita
tidak cari pahala. Karena anak Tuhan, itulah kehidupan kita melayani,
mengasihi, mencintai, memberi berkat antara satu dengan yang lain. Begitu kan?
Mengampuni dan mengerti kelemahan dan kekurangan, kelebihan dalam kehidupan
bersama saudara.
Kata romo dalam
khotbah tadi, saudaramu siapa sih? Coba katakan! Saudara di sini saudara rohani
ya. Rasul Paulus mengatakan, layanilah saudaramu lebih dahulu. Untuk melayani
saudara kita tidak habis-habisnya. Kita tidak usak munafik deh. Kita pergi
menyerbu ke sana padahal saudara kita di sini terlantar. Kita serbu di luar
suadara kita yang rohani; kita serbu orang itu, padahal di sini terlantar.
Masih banyak yang boleh kita layani dalam bersaudara. Saudara kita adalah
saudara seiman. Tapi bersahabat-sahabat yang tidak seiman kita juga sahabat,
dan kita tidak bisa meninggalkan karena kita mahluk sosial antara satu dengan
yang lain.
Ada yang datang
: “Ibu!” Ada orang cacat, orang jompo, saya bantu kok. Jadi saya mau
melihat mana yang saya bantu. Kalau masalah iman saya tidak mau dukung, itu
urusanmu. Tapi kalau masalah kemanusiaan mari kita bersama-sama melayani. Bukan
berarti kalau saya seperti ini bukan saya tidak melayani orang yang tidak
seiman, ooh saya layani.
Jadi anak
Tuhan, kita harus jeli, kita harus bijaksana untuk melaksanakan tugas hidup
supaya kita tahu arti hidup yang diberikan Allah kepada kita. Kalau kita tidak
tahu arti hidup, kita keluh kesah saja. Sedikit marah, apalagi doa tidak
dikabulkan Tuhan, Anda pasti ngomel, benar tidak?
Benar, jawab
umat.
Benar tidak? Pernah
Anda mengomeli Tuhan? Kenapa doaku tidak terkabul? Aku sudah doa novena, doa
ini….doa ini tapi tidak terkabul. Doa kita salah sih ….Doa apa yang kita minta?
Tuhan tolong ini dan itu….. tapi Tuhan tolong bantu saya supaya iman saya
tumbuh, supaya saya bisa melakukan….. doa itu doa rohani jangan doa dunia.”
Tuhan, tolonglah toko saya tidak laku-laku. Mana urusan-Ku dengan tokomu?
“Tuhan tolong jagalah rumah saya, lindungi…” Memangnya Tuhan menjadi satpam?
Salah doa! Kalau kita salah doa Tuhan tidak dengar tapi kalau doa rohani. Tuhan
pasti tahu kalau rohani kita yang kita kejar. Semua itu akan diberi, yang
lain-lain sarana hidup akan ditambahkan oleh Tuhan. Karena kita hidup adalah
milik Tuhan. Tuhan tidak mau anak-anakNya menderita seperti itu. Jangan kita
mengartikan ikut Yesus menderita, menderita dalam arti apa? Jangan, kan Tuhan
Yesus menderita. Tidak bisa begitu. Penderitaan apa yang boleh kita alami
bersama-sama.
Ini yang Ibu
Maria sampaikan, bertobatlah anakku dan kembalilah kepada Allah. Ini pesan Ibu
Maria, berbenahlah kamu mulai saat ini karena waktunya sudah dekat, pemurnian
sudah dekat tetapi sebelum pemurnian itu hadir kita dimurnikan secara pribadi.
Kata rasul Yohanes, iblis akan mencobai kamu melalui kelemahanmu, benar tidak?
Benar, jawab
umat.
Tapi kalau kamu
hidup dalam Yesus Tuhanmu, kamu akan tahu mana yang datang dari atas mana yang
datang dari dunia. Kamu akan diberi pengertian itu olah Allah. Karena kamu
hidup, hidup bersatu dalam kasih Allah. Jadi kita dicobai Tuhan oleh kelemahan
masing-masing. Untuk mengerti kelemahan masing-masing dengan apa? Kita punya
kerendahan hati untuk dikritik, untuk ditegur oleh rekan, saudara, suami, istri
dan anak. Kadang-kadang orang tua ditegur anak juga marah, benar tidak? Kamu
anak-anak negur orang tua, boleh dong! Kalau kita salah akuilah kita salah dan
minta maaflah kepada anak. Hargai anak itu! Mereka punya hak asasi juga dalam
kebenaran. Jangan mentang-mentang kita orang tua. “kamu tidak boleh negur aku,
dosa!” Apa dosanya? Memang kita salah, ditegur… kok kata dosa ya..? Ini perlu
dipelajari.
Ibu Maria
mengatakan, hiduplah kamu dalam damai dalam keluargamu. Apabila penurnian itu
hadir diantara kamu akan menyelamatkan kamu semuanya. Ini intinya pemurnian
sudah dekat, lihat segala permasalahan silih berganti yang ada di Indonesia.
Itu sudah dinubuatkan Ibu Maria, tahun 1995. semua permasalahan silih berganti
tidak akan selesai sampai pemurnian itu datang. Pemurnian itu ada, harus
terjadi. Apabila Tuhan hadir kedua kali supaya iman-iman anakNya ada di bumi
ini. Kalau pemurnian itu tidak ada, habislah kita semua. Dunia kiamat, habislah
kita hancur semua karena kita tidak siap dalam iman. Ini yang perlu saya
sampaikan.
“Sampaikan
Agnes, kepada anak-anakku, kata Ibu Maria. Dan jangan lagi mendua hati saudara-saudaraku,
jangan pergi lagi ke dukun-dukun, punya jimat, punya keris, punya apa… golok
segala macam untuk kekuatan untuk mengalahkan dunia dengan dunia, kita hancur.
Dalam kasih Allah kita sanggup mengalahkan dunia. Jangan mendua hati ya, ini
sangat sulit. Kata Ibu Maria, jangan pakai pikiran, persaaan tapi kendalikan
dengan imanmu sehingga kita bisa hidup bijaksana. Kalau pikiran saja kita bisa
heboh, dengan perasaan kita bisa heboh, kalau iman tidak berkembang kita
hancur. Makanya semua pikiran dan perasaan bagian dunia. Kalau kita mati
selesai. Tapi dalam roh dalam iman kita hidup, dihidupkan oleh Allah yaitu
lewat Allah datang ke bumi menjadi manusia, menyelamatkan manusia dalam roh.
Kita ketemu Allah dalam roh.
Kedua, jangan menghujat
roh ini suatu pekerjaan luar biasa. Ini sangat berat. Menghujat roh kalau
kita tidak bertobat, kita tidak diampuni. Anak nakal, kita masih terdiri
dari daging, pasti Tuhan Maha pengasih dan Penyayang, Maha rahim itu akan turun
bila kita bertobat. Mendua hati itu kita menjadi dukun, menjadi paranormal,
atau percaya hal tahayul. Menjadi anak Tuhan tidak lagi percaya tahayul. Hanya
percaya kepada Tuahn. Kita harus berjuang/berkurban, membagikan berkat,
mengampuni. Yang terakhir harga diri. Yang ke sepuluh ini kita
imani. Harga diri tidak penting, harga diri selalu ada dalam kehidupan manusia
sehingga kita tidak bisa membaur, kamu tahu siapa saya? Kamu tahu siapa
saya? Itu harga dirinya terlalu tinggi.
Tuhan Allah
kita saja datang ke bumi ini menjadi manusia dengan segala rencana-Nya sampai
Tuhan menderita oleh penebusan-Nya supaya kita selamat dan ditebus supaya kita
bisa kembali dengan selamat hidup bahagia di surga. Harga diri Allah dimana?
Tidak ada kan? Manusia kok harus meninggikan harga diri?
Celakalah kita
kalau kita selalu mempertahankan harga diri. Kita adalah saudara dalam Yesus
ya. Dimana pun ketemu, kita adalah saudara ya. Masa lalu saya sulit mencari
saudara, karena masih ada kelompok-kelompok tertentu. Tetapi apabila kita sudah
dibaptis dalam roh, dalam kasih Tuhan kita semua saudara. Jangan ada lagi kita
membedakan antara si kaya dan si miskin. Tidak boleh lagi! Kita harus kerjasama
saling melayani, di mana pun kita berada supaya Allah dimuliakan dicari bagi
mereka yang tidak mengenal Allah.
Romo, maaf saya
harus menyampaikan ini romo karena kalau saya tidak sampaikan saya berdosa
sekali. Saya minta maaf romo, saya menyampaikan ini semua ya. Saya diberikan
ini. “Sampaikan Agnes kepada anak-anakku” Saya melayani di Flores juga. Mereka
masih percaya bahwa adat lebih penting dari iman. Padahal mereka 100% Katolik.
Adat itu tetap berjalan itu nomer satu. Mereka ritual, sesajen di kuburan dan
macam-macam. Terus Tuhan Yesus mengatakan: “Agnes, sampaikan kepada mereka
supaya mereka meninggalkan semua apa yang mereka perbuat yang tidak mengerti.
Kalau mereka mau membuka hati, hari ini juga kerahiman-Ku datang diantara
mereka. Tetapi setelah mereka mendengar apa yang telah engkau sampaikan
celakalah mereka bersama dunia”. Jadi ini yang kami sampaikan kepada
mereka.
Dan banyak
mereka bertobat dan ‘suhu’nya juga bertobat dan tidak mau lagi ritual-ritual
memuja roh. Karena roh manusia sudah mati sudah tidak ada di bumi ini, yang ada
roh-roh yang gentayangan adalah iblis yang mencobai manusia di seluruh bumi. Itu
yang saya sampaikan kepada mereka. Akhirnya mereka menerima.
Memang cukup
berat ya tugas yang diberikan Tuhan kepada saya. “Bersaksilah Agnes tentang
dunia karena kamu tahu tentang dunia itu yang mneyesatkan dan bersaksilah
tentang kebenaran.” Jadi 2 hal ini yang saya sampaikan kepada anak-anak
Tuhan. Sebagai contoh yang konkret yang sangat dalam. Diluar Tuhan Yesus
tidak ada keselamatan. Percaya Anda?
Percaya, jawab
umat.
Diluar Yesus
tidak ada keselamatan, kebaikan ada. Setan juga bisa berbuat baik seperti
dukun-dukun itu mengobati orang kan mau berbuat baik, benar tidak?
Benar, jawab
umat.
Tapi
keselamatan dan kebenaran hanya dalam Yesus Tuhan. Diluar itu tidak ada! Maka
berbahagialah kita menjadi anak-anak Allah yang dikasihi, dicintai Allah, Allah
itu hidup dan dekat dan ingin dekat kepada kita semuanya. Percaya Anda?
Percaya, jawab
umat.
Percaya. Ini
yang mau saya sampaikan kepada bapak ibu dan romo. Biarlah romo menilai, kalau
saya salah, tolong saya ditunjukkan dimana saya salah. Saya siap. Saya orangnya
terbuka. Silahkan. Dan saya mengucapkan terima kasih kepada suster, romo dan
saudara-saudara yang ada di sini. Apakah saya akan melanjutkan doa pasrah ini?
Dilanjutkan
ibu, jawab umat.
Sebelum saya
doa pasrah ada 2 hal yang harus saya sampaikan. Di sini doa pasrah yang
diajarkan oleh Ibu Maria tahun 1996. Pada waktu itu kami disuruh berkumpul
sampai 9 hari dan kami mendapatkan doa ini dari Ibu Maria. Saya sampaikan
kepada bapak ibu yang ada di sini, anak-anakku yang dikasihi Tuhan dan Ibu
Maria.
Doa pasrah ini
adalah doa ibu waktu Ibu hidup bersama para rasul menunggu roh Kudus yang
dijanjikan Tuhan dimana Ibu Maria selalu membimbing para rasul karena para
rasul pada waktu itu kocar-kacir.
Dimana mereka…
saat-saat mereka mau percaya, Tuhan meninggalkan mereka dan kembali ke surga.
Tetapi Ibu Maria dihadirkan dalam kehidupan para rasul untuk meneruskan dan
membimbing dan bekerjasama dengan Ibu Maria untuk menunggu Roh Kudus yang
dijanjikan Tuhan, selama 9 hari dimana Ibu Maria berdoa dengan para rasul pada
waktu itu.
Dan juga
diajarkan kepada kami pada waktu itu akhirnya Ibu mengajarkan kepada kami doa
pasrah. Di sini doa pasrah “Ya Allah yang Mahakuasa, pada saat ini juga
jiwaku kuserahkan kepada-MU karena Engkau yang mempunyai bumi ini dan aku
ciptaan-MU. Ini doa pasrah, penyerahan diri seluruh jiwa raga kita
serahkan kepada Allah. Kedua, kata Ibu Maria, apabila engkau mengalami
kerinduan kepadaku, apabila engkau mengalami suatu kesulitan dalam
perjalaannmu, apabila kau berkumpul dan berdoa, ucapkanlah salam ini kepadaku
sehingga kuasa Allah akan menghadirkan Aku diantara kamu dimana kamu sedang
membutuhkan doa-doaku di surga. Ini bukan Salam Maria diputus ya Ibu, ini bukan
“Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu. Terpujilah Engkau diantara wanita
dan terpujilah buah tubuh-Mu Yesus.” Tapi inilah suatu pujian,
suatu kerinduan kepada Ibu Maria karena Ibu Maria adalah Ibu rohani kita dan
kita adalah anak rohaninya. Bagaimana waktu Tuhan Yesus disalib, menyerahkan
Yohanes kepada Ibu Maria dan Yohanes menerima Ibu Maria dalam kehidupannya. Itu
juga kita semua yang ada di sini dan di seluruh bumi. “Salam Maria penuh
rahmat Tuhan sertamu. Terpujilah Engkau diantara wanita dan terpujilah Engkau
kini dan sepanjang masa. Amin “
Karena Ibu Maria
adalah kekal dan abadi. Inilah yang disampaikan oleh Ibu Maria dan saat ini
juga Ibu Maria diantar oleh Tuhan untuk menjadi saksi kebenaran, tentang Tuhan
yang sudah datang ke bumi ini, Ibu Maria akan mengingatkan kembali kepada kita
semua. Maka Ibu Maria banyak datang di seluruh bumi untuk menyampaikan
kebenaran-kebenaran itu karena saat-saat inilah banyak anak-anak Tuhan lemah
dalam imannya, Ibu hadir menguatkan anak-anakNya di seluruh bumi.
Ini yang saya
saya sampaikan, adalah doa pasrah. Di sini ada doa kerinduan. Doa
kerinduan ini adalah Ibu mengajak kita untuk berbuat baik. Untuk berbuat baik,
untuk berbuat baik supaya kamu sampai kepada tujuanmu untuk datang kepada
Allah. Akan Kuajak kamu untuk menghadap Allah dengan perbuatanmu di bumi ini: saling
mengasihi, melayani diantara satu dengan yang lain dan terus berbuat baik.
Apa yang harus
saya perbuat, aku melihat saudaraku yang menderita, apa kamu diam, tutup mata,
tutup telinga, tutup hati, tidak! Kata Ibu Maria, apabila kamu melihat
saudara-saudaramu menderita, pergilah dan layani mereka.
Berkelompok-kelompoklah kamu. Maksudnya berkelompok ini adalah bekerja sama
dengan Ibu Maria dalam kelompok ini untuk melayani. Dimana ada kelompok disitu
tidak ada penderitaan. Benar tidak saudaraku? Kenapa? Karena kalau kita sendiri
untuk melayani apakah kita sanggup? Karena untuk melayani itu bukan hanya doa,
tapi juga sarana. Sekarang begini sekarang kita melayani orang sakit. “Aku
berdoa untukmu ibu supaya kau kuat”
“Ibu saya
sakit, saya tidak bisa beli obat.”
“Aku berdoa
untukmu Ibu”
“Ibu saya butuh
makan, ….saya butuh pekerjaan.”
Apakah cukup
doa untuk menyelesaikannya? Tidak! Berdoa dan mengerjakan sesuatu. Tidak cukup
berdoa saja. Orang sudah sekarat kita berdoa saja, padahal dia butuh obat.
Benar tidak saudara? Aku berdoa… “Aduh, Ibu aku belum menebus obat.”
“Aku doakan
kamu.” Sampai kapan? Tidak! Tuhan bekerja dalam pelayanan kita
masing-masing untuk melayani saudara-saudara kita yang menderita. Kan Tuhan
sudah mengajarkan: dimana aku sakit, dimana aku telanjang tidak pakai baju,
dimana aku haus, dimana kau tidak makan. Itu artinya pergilah kamu melayani di
situ kamu akan bertemu dengan Aku. Dalam penderitaan sesama kita akan bertemu
dengan Tuhan Yesus. Benar tidak saudara?
Benar, jawab
umat.
Apakah Anda
pernah ketemu Yesus di nightclub? Tidak kan? Di tempat yang mewah-mewah kita
bertemu dengan Yesus? Tidak! Dalam penderitaan itu kita bertemu dengan Yesus.
Saudara-saudaraku,
disinilah Ibu Maria mengajak kita dalam kerinduan ini suatu kerinduan untuk
berbuat baik dalam hidup kita supaya kita boleh memuliakan Allah. Supaya kita
boleh merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan saya dan Anda dalam pelayanan.
Kalau Anda
belum bisa melayani, tidak cukup dengan doa saudaraku, Anda rajin ke Gereja,
berdoa di lingkungan, doa di rumah tapi Anda tidak melayani.
Ada saudara
sakit, anda tidak melayani. “Aduh baru satu hari sakit, besok lusalah….!” Kok
begitu? Tapi iman yang hidup spontan. “Eh ada saudara kita sakit, ayo kita
pergi!” Nah itu iman yang hidup. Sikap spontanitas untuk melayani
saudara-saudara kita yang membutuhkan. Di sini Ibu Maria mengajarkan seperti
itu. Inilah saudara-sauaraku, inilah doa kerinduan. Jangan lagi salah….ah
Si Agnes sesat.. itu doa rosario dipotong-potong… Ini kalau bukan Ibu Maria
yang menjagar dimana aku ngerti ya. Jadi jangan melihat Agnesnya tapi renungkan
apa yang disampaikan oleh surga itu sendiri untuk kita semuanya.
Dan mulai hari
ini, kataIbu Maria,
jangan kamu menyimpan kesalahan siapa pun sekecil apapun, jangan! Hari ini
kamu bersalah, hari ini juga kamu minta maaf. Jangan ditumpuk, itu akan menjadi
duri bagi kita. Akhirnya kita tidak bisa berdoa dengan baik. Ketemu dia, uh…uh
buang muka. benar tidak? Menghindar. Mau doa, ah ada itu ah, aku tidak mau doa
di lingkungan. Itu yang tidak saya sukai.. Tidak boleh kata Ibu Maria.
Satu lagi,
banyak orang datang, ibu akan tidak mau ke romo itu, aku tidak suka deh… Kenapa
kamu tidak suka? Pokoknya aku tidak suka? Lho kok semua kamu jajaki itu romo
satu persatu.. Romo itu juga manusia saya bilang. Tidak bisa begitu dong. Kamu
kecentok’ terus kamu tidak mau menerima komuni dari romo ini. Tidak bisa dong,
saya bilang. Nanti habis imanmu diambil oleh setan nanti kamu tidak mendapat
apa-apa. Kesana lagi pergi kesana… morat-marit kamu. Apapun terjadi Ekaristi
itu tetap terjadi. Apapun yang ada dalam kehidupan romo-romo, Ekaristi tetap
terjadi, Tuhan hadir. Misteri itu harus terjadi dan diberikan kepada kita. Ini
yang saya alami di Santiago dimana Tuhan menampakkan diri dalam Ekaristi.
Tapi yang
penting kita sekarang mau merenungkan, saya mau apa sekarang ini? Apakah anda
mengerti hidup itu hanya 24 jam?
Tuhan
mengatakan berhaga-jagalah! Kata berjaga-jaga itu harus kita renungkan. 24 jam
kita berjaga-jaga. Saat ini aku ngomong mungkin jam 8 jam 10 saya dipanggil
oleh Tuhan. Jangan kita hidup tidak mengerti. Hidup 80 th, 100 th, untuk apa ?
Tapi kita hidup
tidak berguna di mata Allah, tidak berguna dalam kehidupan kita, dalam sesama
kita. Berjaga-jagalah 24 jam kita menunggu. Tuhan akan panggil. Karena Tuhan
datang bagai pencuri, dengan tiba-tiba, apakah kita sudah siap untuk pulang,
untuk dipanggil oleh Allah kembali? Karena kematian itu awal kebahagiaan. Kalau
awal kebahagiaan itu tidak bisa kita capai karena hidup ini kita sia-siakan.
Jangan kita sia-siakan hari demi hari. Pakailah hari demi hari itu dalam
kebaikan, dalam perenungan dan bekerja dan berdoa dan melayani.
Mari kita cari
berkat bekerja dalam Tuhan. Jangan kita bekerja hanya keinginan pikiran ‘aku
ingin punya mobil 2, rumah sekian-sekian’, jangan! Tapi mari kita bekerja dalam
kasih Tuhan supaya terberkati semua itu dalam perjalanan kita karena harta itu
bisa mencelakakan kita, dan bisa menyelamatkan kita jika kita bijaksana. Ini
harta kita yang akan kita bawa pulang adalah harta kita dari sesama dimana kita
melayani sesama dalam penderitaan sesama, di situlah harta kita. Itu yang kita
bawa pulang kembali untuk Allah di surga.
Sekarang saya
akan memandu doa pasrah pada malam ini. Kita percaya 2-3 orang berkumpul,
kata Tuhan, Aku hadir dan kita percaya Aku menyertai kamu sekalian
sampai akhir zaman tapi yang sebenarnya Aku menyertai kamu sampai kamu
mati.
Kita akhir
zaman tidak mengalami ya. Dan saya akan memandu doa ini, dan apabila kuasa
Allah datang, berdoalah saudara-saudaraku. Berdoa dalam hati supaya kita tidak
masuk dalam pencobaan. Kita percaya, malam ini kuasa Tuhan akan hadir menyertai
kita pada malam ini dan kita boleh mengalami kasih Allah, cinta Allah. Kenapa
Tuhan memakai cara ini? Karena waktunya sudah dekat. Dengan cara ini supaya
kita semua kembali sepenuhnya kepada Allah, itu harapan Allah yang begitu
setia, yang begitu sabar menunggu kita siang malam di surga supaya kita semua
kembali pada Dia seutuhnya.
Pesan Ibu Maria
Ibu Maria
dihadirkan ke bumi ini untuk menjadi saksi tentang surga untuk anak-anakmu di
seluruh bumi supaya anak-anakmu setia. Terimakasih Ibu Maria. Kata Ibu Maria,
buka hatimu. Mari kita membuka hati supaya kita mengerti apa maksud surga
dengan misteri ini semuanya.
Anakku semua yang
Aku kasihi, dan juga kau Imamku dan para Putri-putriku yang berkumpul semua
pada malam ini bersama Agnes, inilah Aku Ibumu datang melalui Agnes. Dari surga
isi hatiku diantar oleh kuasa Allah untuk menyapa kamu semuanya. Inilah caraku
yang terakhir sampai permurnian itu datang turun ke bumi ini untuk mengalahkan
dunia, dimana kamu terjepit oleh dunia, Allah melihat, Allah mendengar semuanya
dimana anak-anakku di seluruh bumi. Inilah cara yang terakhir, Agnes dipanggil
untuk menyampaikan kebenaran ini. Jangan kamu kuatir, ini Aku Ibumu Maria hadir
diantara kamu pada malam ini bersama Agnes.
Terima kasih
imamku yang Aku kasihi. Engkau berjuang. Malam ini engkau berjuang untuk cari
tahu dan mengerti apa yang dilakukan Agnes untuk bersatu dalam doa. Pasti
perjuanganmu tidak sia-sia, Allah akan membuka semua itu untukmu asalkan engkau
sungguh-sungguh dengan tulus untuk mengerti semua peristiwa yang kamu alami
bersama anak-anakku pada malam ini bersama Agnes. Terima kasih Imamku yang Aku
kasihi.
Dan juga Putri-putriku,
Aku selalu menyertai kamu dan berdoa untukmu dalam panggilanmu untuk penyerahan
diri kepada Allah. Aku selalu menyertaimu, walapun engkau tidak mengerti.
Itulah tugasku yang diberikan Allah untuk menyertai anak-anakku di seluruh bumi
ini supaya Kebenaran dan Keselamatan yang sudah ada di bumi ini tidak tertutupi
oleh dunia. Aku datang anakku, Aku nyatakan semua itu supaya kau mengerti itu
ada dan ada. Aku Ibumu bersaksi. Aku Ibumu sudah ada di surga bersama Allah,
semua dalam kebahagiaan di surga. Itu jugalah nanti kau terima dalam
kehidupanmu.
Anak-anakku,
jangan kau kuatir, berpikir. Engkau tidak akan sanggup untuk berpikir. Inilah
yang sudah terjadi, terjadi diantara kamu. Tuhanmu hadir melalui kuasa-NYA, Aku
hadir melalui kuasa-NYA. Kini Aku juga berbicara. Ini isi hatiku di surga
melalui Agnes. Melalui Agnes anak-anakku, Aku menyapa kamu semuanya.
Persiapkanlah
dirimu dengan baik. Mulailah kamu berbenah diri. Dekatkan dirimu kepada Allah
supaya engkau tidak masuk dalam pencobaan. Karena saat-saat ini kuasa kegelapan
berjuang mengempur. Siapa yang lemah dia akan jatuh. Tetapi kuatlah kamu
semuanya. Dekatkan dirimu kepada Allah supaya pencobaan itu tidak masuk dalam
kehidupanmu.
Anakku,
permurnian sudah dekat. Semua akan dinyatakan. Semua peristiwa silih berganti
di seluruh bumi dan kamu juga merasakan di negaramu ini, penderitaan terus
mengalir. Itulah awal pemurnian anakku. Jagalah dirimu dengan baik. Damailah
kamu dalam keluargamu, dalam saudaramu dimana pun engkau berada. Damai anakku
supaya kuasa Allah bersatu dalam kehidupanmu saat-saat terakhir ini.
Jangan kamu
berbicara dalam hatimu. Berdoa! Berdoalah supaya kau mengerti saat ini. Saat
ini yang berbicara bukan Agnes, inilah Aku Ibu Maria yang sudah dinubuatkan
oleh para Nabi. Harus kau mengerti. Maria, Aku Ibumu yang diberikan kepadamu,
dan kamu diberikan kepadaku. Dunia tidak bisa memisahkan kita semuanya. Siapa
pun yang percaya kepada Allah, dia adalah anakku.
(Yoh 19: 26-27,
red)
Inilah yang
Kukatakan kepadamu anak-anakku semua yang ada di sini. Kamu melayani! Jangan
kamu diam, tidak berbuat apa-apa, engkau nanti kecewa. Berbuatlah yang baik!
Saling melayani antara satu dengan yang lain saat-saat terakhir ini. Itulah
permintaanku, dan berdoalah! Perbanyaklah kamu berdoa supaya kamu tidak masuk
dalam pencobaan yang datang dari dunia ini. Apabila kamu lemah, kamu akan
dicobai. Apabila kau kuat engkau bisa mengalahkan dunia ini.
Inilah yang Aku
sampaikan kepadamu semua yang ada di sini. Terima kasih semua yang berkumpul di
sini. Aku berdoa untuk kamu semuanya supaya kau bersamaku dalam perjalanan
rohani ini. Akulah Ibumu Maria yang sudah datang diantara kamu pada saat ini.
Selamat
berjuang, selamat bekerja, selamat melayani. Saling megasihilah kamu antara
satu dengan yang lain. Itulah hartamu anakku. Itulah kekuatanmu anakku. Siapa
pun melayani, dia bersama Tuhan, itulah indah. Sangat indah melayani. Kalau
kamu melayani maka Tuhan ada bersamamu dan doaku ada bersamamu dalam
perjalananmu.
Baik
anak-anakku yang ada di sini. Bukan hanya sekali ini kamu berkumpul dan berdoa.
Berkumpulah kamu saling menguatkan, maupun berkumpullah kamu dalam
keluargamu supaya kau dikuatkan dalam keluargamu masing-masing. Inilah
permintaanku saat-saat terakhir ini. Berbuat baik! Berbuat baik!
Inilah
anak-anakku yang Aku kasihi semua yang ada di sini, ini yang bisa Kusampaikan
kepada kamu semuanya bersama Agnes. Jangan takut dan jangan kuatir, ini Aku
Ibumu. Allahmu mengantarkan isi hatiku kepada kamu semua bersama Agnes. Agnes
dipanggil untuk kamu semua saat-saat terakhir di negaramu ini supaya
anak-anakku semua kembali. Itu harapanku bersama Agnes. Apakah kamu mau
anak-anakku?
Mau Ibu, jawab
umat.
Mau. Baiklah,
ubahlah hidupmu, mulai hari ini kamu harus bebenah diri. Itu harapanku. Anakku
tidak cukup berdoa tapi saling melayani, saling mengasihi, saling mencintai
kamu antara satu dengan yang lain dan kamu bekerjasama dan berikan, apa yang
kamu punya berikan kepada mereka yang membutuhkannya. Itulah hartamu anakku.
Apakah kamu bersedia?
Bersedia, jawab
umat.
Bersedia.
Anakku yang Aku kasihi, dan juga imamku lihatlah..! Inilah kuasa Allah, engkau
tidak mengerti. Ini, Allah sudah melakukan ini semua saat-saat terakhir, tidak
ada lagi, cukup ini dan terakhir yang diberikan Allah di bumi ini bersama
Agnes, diberikan kepada kamu semuanya. Imamku mengertilah…., dan renungkan
semua peritiswa yang sudah terjadi pada saat ini. Aku berdoa untukmu hai imamku
yang Aku kasihi. Aku Ibumu selalu menyertaimu dalam doaku di surga dan semua
anak-anaku di seluruh bumi. Dan putri-putriku, setialah kamu didalam
panggilanmu dan layani anak-anakku dengan baik. Itu harapanku. Terima kasih
untuk semuanya. Terima kasih atas kesediaan kamu semua berkumpul bersama Agnes
pada saat ini.
Terima kasih
Ibu, jawab umat.
Terima kasih
untuk kamu semua, terima kasih anak-anakku semua. Mari mulai hari ini, mari,
dimana kamu berdoa, pasti Aku akan bersamamu, di seluruh bumi Aku akan bersama
anak-anakku saat-saat terakhir ini. Renungkan apa yang Kukatakan saat terakhir.
Tinggal sedikit waktu saja kamu akan mengalami banyak peristiwa di negaramu dan
di seluruh bumi. Itulah awal dari pemurnian yang akan Tuhan turunkan ke bumi
ini untuk mengalahkan dunia ini yang begitu menyesatkan. Banyak anak-anakku
yang tersesat. Maka Aku minta kepadamu hai imamku, setialah engkau untuk
melayani, kasihi anak-anakku semuanya dengan baik. Itulah imam yang bijaksana,
yang penuh kasih, yang telah bersatu dengan Allah di surga. Terima kasih imamku
yang Aku kasihi, dan terima kasih kepada kamu semua yang ada di sini selamat
bekerja, selamat masuk sehati sejiwa supaya kamu tidak ada perbedaan antara
satu dengan yang lain. Tidak ada lagi kemarahan tetapi ada kasih, saling
mengasihi antara satu dengan yang lain. Terima kasih anak-anakku.
Terima kasih Ibu,
jawab umat.
Terima kasih
untuk semuanya. Sampai di sini pertemuan kita, tapi dalam roh kita bertemu,
dalam roh kita akan bahagia, dalam roh kita bersukacita. Akulah Ibumu Maria
selalu menyertai kamu sekalian dimana pun kamu berada. Terima kasih, selamat
malam untuk untuk kamu semuanya.
Selamat malam
Ibu, terima kasih Ibu, jawab umat.
—ooo0ooo—