Doa Kerinduan
bersama Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu yang bahagia
Di rumah Ibu
Agnes Sawarno, Jl Kebun Rumput I No E-69 Cimahi, Jumat 5 Mei 2006
Pengantar
Tadi kita sudah menerima Tubuh
dan Darah Tuhan bersatu dengan imam kita Alexius. Kita terima dengan
sungguh-sungguh untuk kebersamaan kita dengan Tuhan melalui Ekaristi. Itu
adalah yang sangat penting dalam hidup kita masing-masing menjadi anak Tuhan
didalam Gereja Katolik.
Tadi Romo sudah menyampaikan
tentang pesan Ibu Maria, bahwa tempat ini diberikan kepada anak-anak-NYA. Kami
rela. Tapi sebelum itu terjadi saya bersaksi. Sudah 4 kali saya berbicara
dengan Rasul Yohanes tentang rumah ini. Mengapa? Saya sangat sibuk dengan
mengurus rumah ini. Saya selalu berbicara, “Rasul
Yohanes, kalau boleh saya mau bertanya. Boleh tidak kalau saya menukar rumah
ini dengan rumah yang kecil supaya saya tidak capai.” Langsung rasul
mengatakan, “ Tidak! Tempat ini sudah
diambil menjadi bagian bagi anak-anakNYA”. Dan saya bertanya lagi: “ Kenapa?” Rasul menjawab: ”Nanti saat-saat pemurnian sudah selesai tempat ini akan bersatu
kembali dengan anak-anak Tuhan”. Saya mengatakan, “Pada waktu itu kan banyak rumah kosong, bisa dipakai untuk anak-anak
Tuhan”. Rasul mengatakan, “Agnes itu
bukan milikmu, milikmu adalah ini. Jangan sekali lagi engkau meminta dan minta
mendapat (restu, red) bahwa rumah
ini akan kau tukarkan dengan tempat yang lain yang tidak sesuai dengan rencana
Allah untuk mengumpulkan anak-anakNYA di tempat ini. Sudah tidak lagi kamu
bertanya.”
Tapi saya bertanya lagi sampai 4
kali, akhirnya saya tersentak. “Agnes,
cukup ke 4 kali ini, engkau tidak (perlu, red) bertanya
kembali tentang rumah ini”. Saya mengatakan, “Rasul, ini rumah adalah milik negara”. Rasul menjawab “Baik kau katakan ini milik negara tapi siapa yang lebih berkuasa?” Saya
jadi bingung. Saya bilang”Allah”. “Baik kamu mengakui bahwa Allah berkuasa
mengambil semua apa yang menjadi keinginan-NYA dan tidak ada dunia bisa ikut
campur tangan dalam perjalananmu ini”.
Sudah 4 kali saya bertanya
kepada rasul Yohanes. Akhirnya saya baru mengerti bahwa Ibu Maria meminta
tempat ini untuk menghimpun anak-anakNYA. Akhirnya saya sadar. Saya malu.
Malunya kenapa? Nantinya kan banyak rumah kosong. Itu kan tidak iman yang
berbicara ya, yang bicarakan otak saya. Tapi setelah Ibu Maria menyampaikan ini
kepada kita semua, kami rela. Pasti Tuhan akan menjaga dan Ibu Maria akan
melindungi kita semua di tempat ini. Tidak ada satu pun yang akan menganggu kita
sampai kita menunggu permurnian itu datang.
Beberapa hari yang lalu saya
berdoa jam 2 malam, akhirnya dalam doa kerinduan ini.... tadi saya berhenti
berdoa karena saudara-saudara seperti mengejar target doa itu ya,
berlomba-lomba. Tidak seperti itu, doa itu. Doa itu doa hati, dengan
sungguh-sungguh kita mengucapkan kalimat-kalimat itu. Sedangkan kita untuk
bertemu dengan orang yang lebih tua saja kita bicaranya sopan. Benar tidak?
Ya, jawab umat.
Iya. Apa lagi untuk surga,
terlebih untuk Ibu Maria yang kita cintai, bicaralah dengan baik. Ini jangan sampai
terjadi di lingkungan masing-masing. Tidak perlu cepat-cepat tapi kita hayati
isi doa itu sendiri. Maka tadi saya berhenti, saya alihkan kepada Ibu Ola untuk
cepat tanggapi. Ini tinggal sedikit. Saya sedih ya. Kenapa Anda berdoa seperti
itu? Berdoalah dengan baik, mulai hari ini mau pun pertemuan di lingkungan,
berdoalah dengan baik, bicaralah dengan baik. Itulah doa hati. Jadi doa itu tadi
adalah doa ini (menepuk dahi, red), hafalan saja.
Kita menyapa yang ada di surga, rasa hormat kita pada Ibu Maria bagaimana? Tapi
kali ini tidak apa-apa karena Anda tidak mengerti. Tapi untuk selanjutnya
jangan terulang kembali. Mau tidak?
Mau, jawab umat.
Pasti mau. Kita bicara dengan
Ibu Maria baik, bicara dengan Tuhan juga baik. Kan kita berdoa pada Tuhan Yesus,
terus doa spontan kita cepat-cepat kayak kena berondong. Kapan kita
mendengarkan Tuhan menanggapi doa kita?, yang kita dengar adalah omongan kita
sendiri di telinga. Benar tidak? Tapi kalau doa hati, kita terasa, tersentuh
ya. Dengan doa itu rasanya kita sedang
bicara dengan Tuhan. Ini perlu dipelajari baik-baik. Kata Ibu Maria, kenapa
kita cepat-cepat berdoa? Bicara dengan Tuhan itu baik-baik ya.
Malam ini saya mohonkan kepada
Ibu Maria karena Ibu Maria yang menghendaki pertemuan kita setiap bulan dan
saya mau menyampaikan karena Ola tidak menyampaikan. Doa ini bukanlah doa jumat
pertama apa yang sudah dilakukan Gereja. Doa ini adalah permintaan Ibu Maria,
kebersamaan dengan Ibu Maria untuk merasakan keadaan hati Ibu Maria dan juga suka-
cita Ibu Maria. Jadi kita diajak bersama-sama Ibu Maria untuk merasakan suasana
ini. Jadi doa ini bukan doa pamrih ya untuk mengejar target. Kata Romo: “Bu Agnes boleh nyoba tidak?” Ya,
silahkan, misalnya waktu keadaan darurat, kita doa hari Sabtu ya, hari Minggu
ya, boleh saja. Tidak apa-apa. Ini perlu untuk dimengerti. Doa ini adalah
supaya kita dikuatkan saat-saat terakhir ini dengan banyak permasalahan, maupun
dalam keluarga, maupun situasi keadaan alam, situasi keadaaan negara kita sudah
terpuruk-puruk, sulit untuk mengangkatnya kembali. Itu tanda-tanda kata Ibu
Maria. Akan terjadi gejolak ekonomi sampai saat itu. Terpuruk-puruk ekonomi di
negara kita. Tidak bisa diangkat lagi dengan segala permasalahan yang dihadapi
negara kita. Itu nubuat Ibu Maria tahun 1997. “Akan terjadi gejolak ekonomi di negaramu”. Kalau waktu itu saya
menyebar luaskan, pasti kalian berlomba-lomba mengambil dollar ya, untuk
memperkaya diri tapi bukan itu maksudnya. Kita semua akan mengalami, mengalami
suasana, mengalami penderitaan, mengalami penyakit, sekarang gunung-gunung mau
meletus. Pesan Ibu Maria kemarin pada saya:
“Agnes mengapa kau menangis?”
“ Saat-saat terakhir kok bertambah menderita sekali. Iya pedih sekali Ibu” jawab
Ibu Agnes.
“ Memang apabila waktu sudah dekat kamu akan menderita semuanya. Tidak ada
yang tidak menderita, semua akan menderita tetapi dalam penderitaan itu kamu
akan dikuatkan” kata Ibu Maria
Ibu Maria berjanji beberapa hal.
Gunung akan meletus, terus apa akan terjadi? Badai melanda. Habis itu apa? Gempa
terjadi. Habis itu apa lagi? Akan ada tanda Salib, tanda besar di langit. Habis
itu akan terjadi kabut yang akan turun memenuhi bumi ini. Akhirnya akan terjadi
kegoncangan seluruh bumi, lempengan akan bergeser. Terus mau jadi apa? Itu
janji kepada Lucia. Habis itu apa yang terjadi? Pemurnian...! Berarti sudah
dekat ya? Gunung sudah meletus ya. Hati-hati! Negara apa pun yang punya gunung
dia akan meletus. Mereka punya gunung seperti Merapi, akan meletus. Di
Indonesia cukup banyak, dia akan berentetan akan meletus. Berarti sudah dekat
ya, maka kita dihimpun oleh Ibu Maria untuk dikuatkan.
Begitulah, Ibu Maria berjuang
untuk menghimpun kita semuanya. Mari kita bersemangat. Saat-saat terakhir ini
apa yang harus saya perbuat. Mari kita berbuat banyak. Maka doa kerinduan inilah
Ibu mengajarkan, kamu harus berbuat baik. Jangan hanya meminta dan meminta.
Lepaskan permintaanmu tetapi mintalah supaya aku bisa berbuat baik. Inilah doa
kerinduan. Diajak Ibu Maria saat-saat terakhir ini untuk berbuat baik, sebanyak
mungkin, sebanyak mungkin saudara-saudaraku, sebanyak mungkin.... Buka hatimu,
buka matamu, buka telingamu untuk melihat sekitarmu. Kamu datang pewartaan. Ini
saya sedikit ya... Ibu Maria sudah ada di sini. Tapi saya disuruh bicara dulu.
Ada orang menderita, terus kamu datang.
+ Kamu sabar ya, kamu banyak
berdoa ya. Ini kukasih doa kerinduan, ini kukasih doa pasrah.
- Ibu aku lapar.
+ Berdoalah!
- Ibu, aku sakit!
+ Berdoalah!
Apakah itu sudah cukup,
sedangkan Tuhan waktu datang bagaimana? Ribuan, orang banyak itu berkumpul, Tuhan
memikirkan secara fisik.
“ Beri makan mereka!”, kata Tuhan Yesus.
“Tuhan, kami tidak bawa apa-apa” jawab para rasul.
“ Apa yang ada padamu? Kata Tuhan Yesus
“ Hanya ini roti. Seberapa roti? Ikan, seberapa ikan?”
Tuhan saja (saat, red ) mau mewartakan
tentang kebenaran, Tuhan mau membantu manusia itu supaya manusia itu bisa
mendengarkan apa yang dikatakan-NYA. Kalau lapar, kita mau bicara sampai 2-5
jam..... “Ibu, saya belum makan sudah
satu hari.”
Itu pewartaan yang salah. Jadi
saat terakhir ini kita mewartakan, apa sih yang kamu butuhkan? Saya mau makan
Ibu! Saya tidak bekerja Ibu, bagaimana caranya? Itulah namanya sehati- sejiwa.
Tidak bisa kamu jejali dengan ‘kamu berdoa’ tapi dia lapar, dia sakit,
membutuhkan.... Tidak bisa, tidak bisa begitu. Kita mewartakan tapi kita
melihat, sedang apa orang ini, butuh apa orang ini.
Saudara-saudara terkasih, maka
doa kerinduan ini, (diberikan, red) Ibu Maria,
untuk memulai, bergegaslah untuk berbuat baik. Jangan hanya meminta dan meminta
tapi kamu tidak berbuat apa-apa dalam kehidupanmu. Kamu ingin diurus tapi
uruslah saudara-saudaramu, kata Ibu Maria.
Ini yang perlu saya sampaikan.
Inilah kekuatan kita, kebersamaan kita, sehati sejiwa dalam roh kita bertemu. Walaupun
kita di ujung sana, kita satukan dalam roh, dalam doa, kita dipertemukan oleh
Ibu Maria. Ini yang sangat penting saat-saat terakhir ini. Kekuatan saya apa? Doa? Hanya doa melulu? Tidak! Tidak!
Kekuatan saya adalah Kasih. Tuhan itu Kasih. Sudah diberikan kasih sepenuhnya
dalam hidup saya. Terus saya berbuat dalam hidup saya untuk saudara-saudara
saya? Saya mencintai Tuhan. Bohong! Yang kelihatan saja, kita tidak berbuat
apa-apa. Tuhan itu tidak kelihatan tapi bisa bicara ‘saya cinta Tuhan’.
Buktikan dong! Kalau aku cinta Tuhan, aku harus buktikan. Yang kelihatan itu...
berarti aku mencintai Tuhan. Kalau yang kelihatan saya tidak lakukan. ... tidak
percaya kita cinta Tuhan yang tidak kelihatan itu.
Ini yang saya mau sampaikan pada
malam ini karena inilah kekuatan kita saat-saat terakhir. Semua dunia kita
kalahkan dengan kasih dengan cinta, setan tidak berani menganggu kita kalau
kita punya kasih sepenuhnya dalam hidup kita masing-masing. Setan tidak akan
melawan kita kalau kita punya kasih. Kasih itu menyelesaikan segala-galanya.
Saudara-saudaraku, Tuhan datang melalui kasih-NYA yang menyelesaikan semua
kehidupan kita. Kita diselamatkan supaya kita boleh mengalami tanda kasih-NYA
itu sebagai anak-anak Allah.
Ini yang saya tambahkan kepada
kita semua yang ada di sini. Tidak cukup dengan doa saja. Tidak! (Kita
berseru, red :)”Tuhan,
Tuhan !” Tapi........ eh Ibu Agnes, saya
belum makan. Kita menyebut nama Tuhan tapi yang di sini memanggil nama saya.
Saya pura-pura tidak dengar, tidak dengar. Tapi saya sebut nama Tuhan. Salah
ya! Kekuatan kita adalah kasih, itu perlu ditanamkan saat-saat terakhir ini. Kata
Ibu, bergegaslah berbuat baik dalam hidupmu. Itulah kekuatanmu nanti. Engkau
akan selamat dari kasih yang kau berikan kepada saudara-saudaramu. Ini yang
sangat penting yang harus disampaikan pada malam ini. Jangan salah pewartaan
ya. Kita mewartakan panjang lebar tentang Tuhan Yesus, padahal yang mendengar
itu membutuhkan sesuatu dari kita.
Ibu saya mau mengingatkan, hari Sabtu tanggal 13 Mei 2006, tepat satu tahun
penampakan Ibu Maria di Fatima yang ke 7 yang diberikan kepada Kelompok
Pelayanan Kasih dari Ibu yang bahagia yang datang mewakili kelompok di
Indonesia untuk berziarah ke sana. Adakah rencana kita untuk memperingatinya?
Aku jadi naik buluku waktu kamu
bicara itu ya. Sebenarnya aku tidak
mengerti bahwa Ibu Maria sudah berjanji kepada Sr. Lucia. Itulah yang terakhir
yang ke 7, tidak ada lagi, tidak ada lagi penampakan di Fatima. Selesai sampai
hari itu tiba. Tetapi karena kita disangkut-pautkan dengan Fatima dan berjalan
sama dengan Sr Lucia. Kenapa tidak? Tanggal 13 itu hari Sabtu, terus dirayakan
dimana? Di Fatima ? (umat tersenyum,
red).
Terserah Ola, terserah Romo
Widi. Aku ikut saja. Kalau di Jakarta mau dihimpun dimana? Itu masih jauh ya?
Silahkan berencana, kalau itu baik menurut diatas pasti berjalan dengan baik
ya. Amin.
Apa yang saya sampaikan tadi
perlu direnungkan kembali. Kita bersama-sama dalam kelompok ini bersama Ibu Maria
bukan bersama ibu Agnes. Aku juga sama bekerja bersama Ibu Maria. Jadi di sini
tidak ada ketua atau wakil ketua ya, yang membimbing kita adalah Ibu Maria
sendiri.
Mari kita persiapkan diri kita
dengan baik. Kita mohon kepada Ibu yang memberikan semua ini pertemuan kita
direncanakan oleh Ibu sendiri dan kita sudah melaksanakan dengan baik, terserah
surga menilainya sejauh apa. Tapi inilah maksimal kita untuk mempersembahkan semua
perjalanan hidup kita pada malam ini. Dan kita mau melayani dan berjanji mau
melayani dan kita mau tetap setia dalam pelayanan ini dan kita bekerjasama
antara satu dengan yang lain dan tidak ada lagi pertentangan. Itu harapan Ibu
Maria supaya saat-saat terakhir ini memang sungguh-sunguh sampai kepada tujuan,
yang menjadi tujuan Ibu Maria supaya anak-anaknya semua selamat.
Ibu Maria yang baik, yang bersatu dengan Allah di surga, ini kami dengan Romo
Isak Doera dan juga Romo Alexius dan juga putra-putrimu berkumpul pada malam
ini mau menyatakan kebersamaan dengan Ibu Maria supaya kami dikuatkan saat-saat
terakhir ini, supaya kami banyak menyadari dan banyak memperbaiki diri kami
menjadi anakmu yang baik di mana pun kami berada.
Ibu Maria juga aku mohon kepadamu karena Yohanes yang di Ruteng dan berapa
Romo sedang menghadap Uskup untuk meminta izin untuk kehadiran kami untuk
melayani anak-anakmu di sana. Tolong Ibu, bukakan hati Uskup kami yang di
Ruteng supaya kami sampai di sana nanti karena sebagian para Romo sudah siap
dan ada juga para Romo yang akan datang ke P.Jawa untuk mewakili untuk bertemu
dengan kami Ibu Maria. Kami senang. Dan kami percaya Ibu akan mengantarkan kami
untuk melayani anak-anakmu di sana. Dan juga di Timika, kami mohon doa Ibu
untuk Uskup, maupun untuk Romo Jack dan juga para umat di sana agar kami juga
sampai di sana nanti dapat melayani anak-anakmu dengan baik.
Ibu Maria, Ibu telah menyampaikan hal-hal yang penting buat kami. Bukan
untuk kami pelajari tapi untuk kami renungkan peristiwa-peristiwa demi
peristiwa yang Ibu sampaikan kepada kami. Ibu, tolonglah kami semua anak-anakmu
supaya kamu semua siap, di negara kami maupun di seluruh bumi. Itu permohonan
kami Ibu Maria.
Dan kami percaya doamu selalu menyertai kami khususnya dalam keluarga kami
masing-masing dengan segala permasalahan yang dihadapi putra-putrimu. Dan juga khusus
aku persembahkan Nina dalam doamu Ibu, yang terbaik yang terindah untuk Nina
yang saat ini masih terbaring dan kami percaya semua akan menjadi baik.
Dan juga Ibu Maria aku serahkan putra-putrimu yang ada di sini supaya
mereka menjadi pewarta yang benar, melayani yang benar. Tolong mereka semua Ibu
Maria supaya mereka tetap setia untuk bekerjasama dengan Ibu untuk melayani
anak-anakmu di mana pun anak-anakmu ini
berada.
Dan juga khusunya bagi para Romo yang terbuka hati, mohon berikan
pengertian yang sangat dalam khususnya romo-romo kami, Romo Alexius dan Romo Isak
Doera dan Romo Heribertus. Itu juga kapan saatnya beliau kembali supaya kami
dapat bekerjsama kembali untuk melayani anak-anakmu saat-saat terakhir ini. Doakan
ya Ibu romo-romo kami ini supaya sehat supaya dapat mendampingi kami dalam
pewartaan ini untuk anak-anakmu. Itu semua aku serahkan kepada Ibu di surga.
Juga bagi anak-anakmu semua yang sedang sakit di mana pun mereka berada, mohon doamu Ibu agar mereka
sembuh. Khususnya untuk sdri kami yang ada di Singapore yang sedang berobat.
Ibu tolong anakmu itu, kuatkan dia. Itu semua aku serahkan kepada Ibu. Kami
tahu Ibu pasti menolong anak-anakmu di mana pun mereka berada. Dan aku serahkan
semua perjalanan kami ini bersatu dengan Ibu dengan doa Ibu di surga. Maka kami
kuat menghadapi kenyataan ini. Amin.
Pesan Ibu Maria
Selamat malam untuk Isak Doera
dan juga kau Alexius, selamat malam juga untuk anak-anakku semua yang ada di
sini.
Selamat malam Ibu Maria, jawab umat.
Terima kasih anak-anakku yang
Aku kasihi. Ini Aku Ibumu bersama Agnes. Inilah isi hatiku melalui Agnes, Aku
datang bersama kamu semua seperti ini. Inilah rencanaku saat-saat terakhir
anak-anakku. Aku akan bersama anak-anakku di seluruh bumi, melalui kuasa Allah
Aku ada bersamamu dan Aku juga ada bersama mereka di mana pun mereka berada.
Kamu percaya anak-anakku?
Percaya Ibu, jawab umat.
Terima kasih kalau kamu percaya.
Tidak bisa dipikirkan dengan pikiranmu tetapi percayalah apa yang Aku sampaikan
ini kepadamu.
Terima kasih kepadamu Alexius. Kamu
sudah mewartakan untuk anak-anakku. Itu harus kau teruskan, tidak sebatas itu
selesai. Itu akan terus menerus. Engkau akan menguatkan mereka supaya juga
mereka (Komunitas Katolik Indonesia di Auckland, New Zealand, red)
akan mengalami sukacita seperti kamu yang ada di negaramu ini, bersama
Maria (Ibu Ola, red). Kamu
juga Maria, persiapkan dirimu dengan baik untuk melaksanakan tugasmu ini.
Lakukan dengan hatimu. Tidak lagi hatimu terpaut dengan hal-hal dunia yang
menutupi hal-hal kebenaran yang akan kau sampaikan kepada anak-anakku.
Itulah Alexius, itulah tugas
yang Kuberikan kepadamu. Engkau tidak akan bebas menurut kehendak hatimu. Engkau
telah diikat oleh anak-anakku yang membutuhkan kebenaran-kebenaran yang akan
kau sampaikan kepada mereka. Ingat engkau telah diikat untuk bersatu dengan Aku
dalam perjalanan ini. Semua para imam yang dipanggil mempunyai bagian-bagian tersendiri
didalam perjalanannya. Itu sudah kau lakukan. Tuhan berkati didalam
perjalananmu. Tidak lagi kau diikat oleh suatu peraturan tetapi engkau diikat
oleh satu kebenaran yang harus kau sampaikan kepada anak-anakku. Itulah
tugasmu, Alexius. Saatnya akan tiba Heribertus akan bersamamu. Isak Doera akan
menjadi penasehatmu. Semua punya bagian-bagian didalam perjalanan didalam
kelompok yang telah Kuberikan ini kepadamu di negaramu ini.
Inilah Aku memintamu semua
anak-anaku supaya kamu membuka hatimu dalam kebenaran. Jangan mencari kesulitan
yang datang dari dunia ini. Itu adalah perbuatan-perbuatan penguasa-penguasa
dunia ini. Tidak lagi anak-anakku. Bekerjalah kamu! Bukan Aku mengatakan kamu
berhenti bekerja, surga tidak pernah mengajarkan itu. Bekerja dan berdoa dan
melayani. Itulah yang harus kamu lakukan saat-saat terakhir ini. Aku telah
menyampaikan kepada Agnes beberapa hal supaya kamu bisa merasakan apabila itu
terjadi Aku telah menyampaikan ini kepadamu. Dan apa yang telah disampaikan
Agnes itulah yang Kusampaikan saat ini juga untukmu. Sudah dekat anakku. Maka
Aku ingin kamu semuanya menyadari. Pulanglah, kembalilah kepada Allah karena
waktu yang dekat ini untuk persiapanmu dengan baik. Sungguh Aku mengatakan ini.
Lihat dan tunggu kamu akan mengalaminya.
Berbahagialah kamu, kamu diberitahu sehingga kamu siap menghadapi kenyataan
itu. Lihat, dengarkan apa yang terjadi di negaramu ini. Itu tidak akan selesai!
Lihat apa yang terjadi. Kamu mendengarkan, kamu melihat, kamu merasakannya.
Anak-anakku yang Aku kasihi,
berbahagialah kamu! Dengan cara ini semua mendengar. Aku tidak lagi mewakili
perorang-perorang tetapi satu orang Agnes kamu boleh mendengarnya. Inilah isi
hatiku melalui Agnes. Inilah..., mereka yang tidak membuka hati, mereka tidak
akan mengerti. Mereka berbicara bahwa Aku tidak punya pekerjaan di surga dan
Aku melayang-layang di bumi ini. Itukah...? Inilah bagian-bagian para imam,
melemahkan imannya sendiri dengan perkataannya. Aku mendengar, mendengarkan
perkataan seperti itu. Tidak! Aku tidak sedih. Perkataan itu bagiku, tidak
membuat Aku mundur untuk melayani anak-anakku. Ini Aku sampaikan kepadamu.
Bantulah Agnes dalam hal, dengan
segala hal. Bantu dia, supaya dia bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Apa
yang sudah kamu perbuat untuk Agnes? Belum sampai di situ. Bukan Aku minta belas
kasihan untuk membuat Agnes kuat. Tidak! Tidak. anak-anakku. Agnes tidak butuh belas
kasihan tetapi kebersamaan seperti Aku bersama para rasulmu. Kebersamaan dengan
umat, dengan segala hal, didukung umat supaya para rasul dapat bekerja dengan
baik. Itu kebersamaan sehati sejiwa melaksanakan tugasmu. Jangan Agnes kau
tinggalkan begitu saja. Sudah selesai sampai di sini, Agnes sendiri. Tidak! Itu
bukan kebersamaan. Surga saja menyertai dia dan kamu dipanggil untuk bersatu
dengan dia untuk melaksanakan tugas ini melayani anak-anakku. Ingat sekali lagi,
Aku tidak meminta kalian untuk berbelas kasihan kepada Agnes. Tidak! Cuma
kebersamaanmu itu belum. Ini yang Aku mintakan kepadamu. Kesusahan Agnes juga
adalah kesusahanmu. Jangan kamu mengatakan itu kan urusan Agnes. Tidak
anak-anakku. Dimana kebersamaanmu sehati sejiwa dalam perjalanan ini bersama-sama
anak-anakku untuk melayani apa saja bersama Agnes. Karena dia dipanggil untuk
yang terakhir.........(kaset dibalikkan, red)
....Berbincang-bincang dengan
kamu yang ada di sini. Ini bukan Agnes. Tidak anak-anakku. Agnes tidak punya
kuasa untuk berbicara, untuk meminta, untuk melakukan apa saja dalam perjalanan
ini. TidaK! Dia hanyalah alat bagi kami supaya kami bisa bertemu dengan kamu
yang ada di sini di mana pun anak-anakku berada.
Dan terima kasih apa yang Aku mintakan
dari kamu untuk memberikan sedikit tempat ini menjadi suatu tempat doa yang
sungguh-sungguh bisa dinikmati secara rohani. Jangan takut! Tempat ini tidak
akan..., siapa pun tidak akan (ada, red) yang bisa menganggu tempat ini. Sungguh, Aku mengatakan
kepadamu. Tetapi jagalah tempat ini dengan baik supaya tempat ini lebih tenang.
Terlebih dahulu tenangkanlah hatimu supaya tempat ini menjadi tenang buat
anak-anakku. Kalau hatimu tidak tenang tapi kamu mau bekerja, itu akhirnya...
siapa pun yang datang di sini, dia tidak akan mendapat ketenangan. Karena
kebersamaanmu itulah, itu akan menjadi kekuatan bagi kamu semuanya yang datang
ke tempat ini.
Aku sudah datang ke tempat ini
anakku. Aku menemui Agnes. Bukan Agnes mencari Aku, Aku yang mencari Agnes, dan
Aku minta kepada Agnes. Cukup berat jawaban Agnes mengatakan ya untuk menerima
tugas yang Aku berikan kepada dia. Pikir kamu Aku gampang untuk meminta Agnes
untuk menjadi sarana, menyampaikan isi hati Tuhan. Karena Tuhan tidak memaksa
manusia. Tetapi Agnes masih mempunyai iman maka itulah dia menerima tugas ini
dengan baik. Tidak mudah anakku untuk memanggil Agnes seperti ini. Cukup lama.
Aku terus menerus untuk bertemu dengan Agnes. Itulah supaya kamu mengerti.
Agnes mau menerima karena dia ingat kembali, dia sudah diselamatkan dari dunia
ini. Itulah yang menjadikan hatinya terbuka dan menerima tugas yang cukup berat
ini saat-saat terakhir ini yang Aku berikan kepadanya.
Sekali lagi Aku meminta kepada
kamu untuk mengerti. Aku tidak ingin tempat ini engkau membangun dengan hatimu
yang belum terselesaikan. Nanti iblis akan ikut campur tangan. Aku minta
jernihkan hatimu, tuluskan hatimu, kebersamaanmu menerima apa yang Aku mintakan
kepada kamu yang ada di sini. Kalau hatimu belum tenang, janganlah berbuat. Akhirnya
tidak baik. Maksud baik, tapi hasilnya tidak memenuhi apa yang menjadi
keinginanku supaya anak-anakku berkumpul di sini, memulai membuka hati untuk
saat-saat terakhir ini.
Aku minta kepada kamu semuanya,
bekerjalah dengan hatimu. Tidak! Bukan itu yang Aku inginkan. Semua terjadi
dengan sangat rohani supaya nanti tempat ini akan menjadi ketenangan, kedamaian
bagi anak-anakku semuanya. Itulah harapanku untuk mengumpulkan kamu seperti ini
di tempat ini. Karena Aku-lah yang memulainya datang ke tempat ini. Sungguh,
semua surga yang memulainya. Manusia membuka hati dan menerimanya dengan tulus.
Semua dari surga. Tanpa surga memulai, kamu tidak akan sanggup memulainya
karena engkau tidak mengerti apa yang harus kamu lakukan, yang sebenarnya yang
dikehendaki surga.
Anak-anakku semua yang ada di
sini, dan juga engkau Alexius, dan kamu semua yang menanggapi apa yang Aku
mintakan ini, sungguh, berangkatlah dengan rohanimu. Itu harapanku yang sangat
dalam supaya tempat ini sungguh-sungguh berarti bagi kamu semuanya. Dan jangan
kuatir dan jangan takut, tidak ada satu pun yang akan menganggumu di tempat
ini. Allah telah memberkatinya untuk kamu. Sungguh, Aku mengatakan.
Inilah yang Aku sampaikan
kepadamu dan sekali lagi engkau Isak Doera, engkau Alexius, Aku menyerahkan
Agnes kepada kamu berdua. Jaga dia dengan baik supaya dia mendapatkan
ketenangan untuk melaksanakan tugasnya menerima semua pesan-pesan yang datang
dari surga. Jangan kamu lupa! Jangan kau biarkan Agnes sendirian dengan segala
permasalahan-nya yang dihadapinya selama ini sendiri. Tapi dia kuat karena
Allah menguatkan dia. Allah tidak meninggalkan dia. Tapi apakah itu? Dimanakah
sehati sejiwa itu yang ada dalam kelompok ini bersama Aku Ibumu?
Ini yang Aku sampaikan pada
malam ini kepada kamu supaya kamu mengerti mengapa Aku mengumpulkan kembali. Dan Aku berjanji Aku akan bertemu dengan
Agnes. Ada sesuatu yang Aku harus sampaikan kepadanya. Ini janjiku kepada
Agnes. Engkau saksiku, semua mendengarkan Aku apa yang Kukatakan ini. Aku akan
bertemu dengan dia karena saat terakhir cukup berat baginya. Maka Aku harus
menemuinya sendiri. Berbicara sendiri kepadanya. Itulah janjiku. Dan Aku
sudah menyatukan kepada mereka-mereka yang sudah pulang dalam damai, yang
selama ini mereka bersamaku, khususnya Lucia. Kamu tidak ditinggalkan sendiri
dengan pesan-pesan ini.
Dan jangan kamu bertanya-tanya
terus dalam hatimu dalam pikiranmu, mengapa Paus tidak menanggapi. Akan
ditanggapi dengan baik! Berilah mereka waktu untuk merenungkan karena apa yang
kamu sampaikan itu semuanya, cukup berat bagi mereka. Karena mereka berani
memutuskan sendiri. Inilah menjadi batu sandungan di mana mereka menerima
pesan-pesan yang telah kamu sampaikan. Tetapi dilain hal mereka sudah mempunyai
keputusan yang sangat bertentangan yang menjadi kehendak Allah seutuhnya. Allah
mengatakan, “tidak akan berubah.” Itu yang akan kamu lalui, yang akan kamu
terima, apa yang telah disampaikan oleh Allah melalui Firman-NYA. Itulah yang
menjadi pegangan sepenuhnya dalam hidupmu. Tidak boleh ditambahkan maupun
dikurangi tetapi terimalah seutuhnya.(Wahyu
22:18-19). Jangan takut kepada dunia karena Allah diatas
segala-galanya. Kamu mengerti?
Mengerti Ibu, jawab umat.
Baik, setialah anakku. Tidak ada
keselamatan terkecuali dia percaya dengan imannya adalah Allahmu datang ke bumi
ini bersama manusia dan kembali ke surga. Tetapi keselamatan itu ada diantara
manusia diterima ataupun tidak diterima, itulah yang sebenarnya.
Anak-anakku yang Aku kasihi,
mulai hari ini tidak ada lagi tergoyahkan hatimu lagi. Setialah anakku sampai
janji itu turun ke bumi ini. Janji Tuhan ditepati karena DIA mempunyai
segala-galanya. Kalau manusia, janji bisa tidak terpenuhi karena dia tidak
mempunyai kekuatan dalam hidupnya tetapi Allah mempunyai kekuatan semuanya,
harus kamu percaya! Setialah anakku. Dan saya minta kepada kamu, teruslah
berjuang.
Dan Aku minta kamu Alexius, apa
yang menjadi permintaanku, bekerjasamalah dengan anak-anakku yang akan
melaksanakan apa yang menjadi keinginanku di tempat ini. Apakah kamu bersedia
Alexius?
Bersedia Ibu, jawab romo Alexius.
Terima kasih, terima kasih. Bimbing
mereka semuanya. Arahkan mereka semuanya. Semua rohani, rohani.... Berikan
semua itu dengan rohani, supaya......... tempat ini terberkati, sungguh-sungguh
terwujud bagi anak-anakku semua yang ada di sini. Siapa saja yang datang ke
tempat ini, dia akan mendapatkannya kebahagiaan lahir dan batin.
Inilah yang Aku sampaikan
kepadamu dan juga kamu anak-anakku di sini semuanya. Inilah Aku Ibumu Maria.
Aku menyampaikan isi hatiku dari surga melalui Agnes anakku ini yang Kuberikan
kepadamu. Bekerjasamalah dengan Agnes. Jangan lagi kamu membuat sedih kepada
Agnes. Itu permintaanku. Jangan lagi kau membuat sedih kepada Agnes. Ingat,
Agnes tidak sempurna, dalam kesedihan, dia bisa saja merasa tertekan oleh
kamu-kamu yang bersama Agnes. Tetapi berikanlah penghiburan melalui sikap dan
tingkah-lakumu. Itu sangat penting untuk menghibur Agnes. Itu mudah kan atau
susah?
Doakan kami, jawab umat.
Kelihatannya mudah, jawab romo Alexius..
Kelihatannya mudah, tapi susah
untuk melaksanakannya. Tapi berjuang anakku, pasti kamu bisa, kamu bisa! Kenapa
tidak? Bisa! Inilah harapanku. Surga akan menolongmu. Kami berdoa untukmu.
Semua-semua orang yang sudah bahagia bersamaku untuk bersatu dengan kamu semua
anak-anakku di seluruh bumi. Itulah yang Kuberikan kepadamu pada malam ini. Ingat
waktunya tidak terhitung anakku. Tapi jangan takut, percaya! Kalau hatimu baik
semua akan menjadi baik. Itu saja, hati! Karena hati adalah untuk bertemu
dengan Allah. Hatimu anak-anakku, bersatu dalam roh, kamu bertemu dengan Allah.
Baik, sampai di sini pertemuan kita. Kita akan bertemu kembali bulan depan
seperti ini. Terima kasih anak-anakku. Mari kita satukan dalam doa.
Ya Allah yang Mahakuasa, pada saat ini
juga jiwaku kuserahkan kepada-Mu
karena Engkau yang mempunyai bumi ini dan aku ciptaan-Mu. (3 X) Amin.
Terima kasih juga engkau Alexius
dan juga engkau Isak Doera, salamku juga kepada Heribertus dan kepada mereka
yang percaya dalam perjalanan ini. Dan sekali lagi damai anakku supaya kamu
tidak masuk didalam pencobaan yang datang dari dunia ini. Damai! Maukah kamu damai?
Mau Ibu, jawab umat.
Mari,
kita berdamai anakku. Berdamai..! Doaku menyertai kamu sekalian. Terima kasih
anakku.
Terima kasih Ibu, jawab umat.
Sampai bertemu lagi dalam doa.
Aku menyertaimu, doaku selalu menyertaimu semua dan juga anak-anakku di seluruh
bumi ini. Terima kasih. Selamat malam!
Selamat malam Ibu, jawab umat.
---ooo0ooo---